Tiga Seniman Manga Panutan Stephanie Priscilla

May 3 / Raisa Monique Sihaloho

Stephanie Priscilla, seorang ilustrator asal Indonesia yang menetap di Singapura, menjadikan hobinya sebagai ladang bisnis.

Kesibukkan Stephanie saat ini yaitu menjual merchandise yang didesain sendiri. Setelah mengalami pergolakan diri dalam menentukan kiblat desainnya, Stephanie menetapkan diri menjadi seniman manga. Padahal dulunya Stephanie ingin menjadi seniman ilustrasi buku anak layaknya Oliver Jeffers atau Peter Rabbit. Sempat juga ia nyaman dengan gaya ilustrasi ala Disney. Setelah dihadapi dengan berbagai pilihan, ia percaya bahwa evolusi kiblat seni menurutnya nyata dan selalu ada. Tidak terbatas pada tren, menurutnya anime dan manga mengingatkan Stephanie pada perasaan nostalgia. Simak artikel ini untuk mengetahui seniman manga yang selama ini menjadi panutan Stephanie dalam berkarya!

1. Ai Yazawa

Seorang penulis Manga asal Jepang yang biasa dipanggil Yazawa dengan karyanya yang terkenal, “Nana”, “Paradise Kiss”, dan masih banyak lagi. Yazawa sendiri sempat mengenyam pendidikan di dunia mode setelah ia menamatkan sekolahnya. Tetapi sayang pendidikannya di dunia mode tidak ia tamati. Hal ini berdampak pada anime-anime yang Yazawa kerjakan, kerap disadari bahwa salah satu identik karakter anime yang ia buat selalu modis. 

Dikenal dengan karyanya pada anime “Nana”, hingga saat ini tidak ada kepastian dari keberlanjutan Yazawa di karirnya. Di tahun 2009, Yazawa sempat dikabarkan mengalami sakit dan terpaksa hiatus dalam dunia Anime. Hal tersebut menyebabkan serial anime “Nana” tidak dapat dipastikan hingga tahun ini.

2. Inio Asano

Inio Asano merupakan seorang seniman manga dengan karyanya yang terkenal “Solanin”, “Goodnight Punpun”, “A Girl on the Shore”, dan “Nijigahara Holograph”. Seniman dengan tahun kelahiran 1980 dikenal dengan desain berkarakter realis. Dalam mendesain, karakter yang diangkat oleh Inio Asano kerap kali bersanding dengan gaya hidup anak remaja, mulai dari kisah persahabatan, pendidikan, hingga seks. Pengalamannya di masa remaja menjadi acuan diri membangun karakter remaja pada setiap karyanya. Selain itu juga, pengalaman orang sekitar juga menjadi referensinya membangun karakter. Karena ia ingin membangun karakter tidak berdasarkan pengalamannya sendiri yang akan menghasilkan karakter tunggal. 

3. Satoshi Kon

Kon menjadi seorang animator yang sudah menitik karirnya sejak di bangku perkuliahan. Karya Satoshi Kon yang pertama ialah “Toriko” pada tahun 1984. Salah satu karyanya di tahun 2006 “Paprika” mendapatkan berbagai penghargaan. Walaupun sudah ditinggal selama 10 tahun semenjak kepergian Kon karena penyakit kanker, karya-karyanya pun masih membekas hingga saat ini. Paprika sendiri merupakan hasil adaptasi dari novel fiksi Yasutaka Tsutsui dan merupakan karya terakhirnya. 

Hebatnya di tahun 2020 Kon masih menerima penghargaan Winsor McCay. Karyanya pun sudah diakui oleh organisasi internasional, ASIFA-Hollywood. Bahkan Charles Solomon sebagai Dewan Direksi ASIFA-Hollywood menganggap bahwa Kon merupakan seniman yang berbakat. Tidak hanya Paprika, beberapa anime karya Kon menjadi favorit yang salah satunya "Perfect Blue", "Tokyo Godfathers", "Millennium Actress", dan "Paranoia Agent".


Ketiga illustrator tersebut merupakan panutan Stephanie untuk terus berkarya dalam dunia anime dan manga. Dari cerita Stephanie, apakah kamu tertarik untuk masuk ke dunia illustrator? Simak artikel lainnya di KARENA.ID!