Dania Arsella Merancang Rute Masa Depan Dengan Memulai Bisnis Fashion

Feb 4 / Abi Ardianda

Petualangan setiap orang dalam menjalani hidup tentu berbeda-beda. Ada seseorang yang baru menemukan passion dan meraih kesuksesan di usia setengah abad. Ada juga anak muda yang sudah menemukan panggilan hidupnya di bangku perkuliahan, salah satunya adalah Dania Arsella.

Mahasiswi di Institut Teknologi Bandung ini memulai bisnis yang tengah dipersiapkannya ketika mengerjakan salah satu tugas kuliah. Selain passion, berbekal pengetahuan, skill, koneksi, dan tekad yang kuat, Dania sesaat lagi akan merilis ulang produknya ke pasar dalam skala yang lebih besar. Ingin tahu bagaimana cerita Dania menemukan passion dan mengumpulkan keberanian untuk memulainya? Lalu, di usia yang masih sangat belia, bagaimana Dania mengumpulkan modal untuk memulai bisnisnya? Bagaimana dia menghadapi krisis selama pandemi? Simak kisah lengkapnya telah kami persembahkan untuk kamu, hanya di KARENA.ID

Berawal Dari Tugas Kuliah

Bila mengingat kembali ke masa perkuliahan, apa saja, sih, yang biasanya kita lakukan untuk mengisi waktu luang? Berkumpul bersama teman, sebagai hiburan, sah-sah saja. Tetapi, Dania justru memanfaatkan waktu luangnya di sela perkuliahan untuk mempelajari panggilan hidupnya. Maka, ketika ditugaskan untuk membuat suatu model bisnis, bersama 20 teman, Dania begitu bersemangat merancang konsep yang selama ini telah didambakannya; yaitu clutch berbahan dasar kayu. Melalui riset kecil-kecilan yang dia lakukan, dari Pinterest maupun social media, Dania melihat kayu yang menjadi tren digunakan sebagai bahan utama membuat beragam fashion items. Mulai dari accessories, kaca mata, jam tangan, sampai case untuk handphone. Dari sana, Dania kemudian tergerak untuk membuat clutch berbahan dasar kayu.   Gagasan Dania kemudian terpilih untuk dieksekusi oleh ke-20 teman lainnya untuk dibuatkan bisnis modelnya. Selain itu, produk tersebut juga nantinya akan mereka jual. Semula, respon para dosen tidak begitu menyenangkan. Para dosen meragukan pasar yang sesuai untuk produk tersebut. Namun, setelah Dania memberinya modifikasi, ditambah kolaborasinya dengan mahasiswa dari jurusan desain, pandangan awal para dosen berubah dan berkat kerja kerasnya di tugas tersebut, Dania pada akhirnya mengantongi nilai A. Dania kemudian merilis produk clutch berbahan dasar kayu ditambah sentuhan desain menawan gagasan-nya. Belum puas hanya menjadikannya sebagai tugas kuliah, Dania kemudian melanjutkan bisnis tersebut untuk dikerjakannya sendiri. Hal tersebut dia lakukan setelah meminta persetujuan serta dukungan teman-teman lain yang mengerjakan tugas kuliah bersamanya. Karena hari-harinya dipenuhi oleh pekerjaan yang menumpuk, Dania terpaksa harus mencuri waktu untuk melanjutkan bisnisnya. Namun, seperti kata pepatah klasik, di mana ada kemauan, di situ akan ada jalan, Dania kemudian berhasil membagi waktunya untuk menyelesaikan perancanaan bisnis yang akan hadir dengan wajah baru.
Berawal dari tugas kuliah, Dania kini menyempatkan waktu untuk melanjutkan tugas-nya menjadi sebuah bisnis.

Memanfaatkan Waktu Dengan Optimal


Tidak lama setelah lulus kuliah, sempat mengikuti Abang None Jakarta daerah Jakarta Selatan, Dania kemudian bekerja di sebuah perusahaan start up di bidang teknologi. Hal itu tentu saja menyita waktunya, sehingga dirinya terpaksa cermat membagi dan memaafkan waktu.

Tidak dipungkiri, pekerjaan harian yang digeluti Dania telah memberinya pemasukan rutin yang bisa ditabungnya untuk modal berbisnis. Sebab, sejauh ini, Dania pantang meminta bantuan finansial kedua orang tuanya untuk berbisnis. Alih-alih meminta bantuan kedua orang tuanya, selain dengan menabung, Dania juga rajin mengikuti kompetisi yang diadakan untuk para pegiat UMKM dengan hadiah bantuan dana untuk berbisnis. Dari program tersebut kemudian Dania berhasil mendapatkan dana tambahan.

Karena bekerja dari hari Senin sampai dengan Jumat, Dania menggunakan akhir pekannya untuk mengerjakan bisnis. Baginya, bisnis adalah pelarian menyenangkan dari hari-hari lainnya yang kadang terasa menjemukan. Karena vendor yang dipilih Dania untuk memproduksi barangnya berlokasi di Bandung, terpaksa Dania pergi ke Bandung pada hari Jumat malam atau Sabtu pagi, kemudian kembali pada hari Minggu malam. Waktunya di Bandung dimanfaatkan Dania untuk memerksa perkembangan produksi, memeriksa detilnya, hingga melakukan perencanaan.

Apakah jadwal tersebut membuat tubuhnya lelah? Tentu saja. Dania bahkan mengakui hal tersebut. Tetapi, Dania menambahkan bahwa ketika dia melakukan sesuatu yang disenanginya, hal itu otomatis membuatnya merasa semangat. Sehingga rasa lelahnya juga berhasil dilawan.

Dania juga tidak sungkan untuk meminta bantuan. Ketika mengerjakan tugas kuliah dulu, kedua orang tuanya membantu Dania mendapatkan Kerang Lombok untuk dijadikan ornamen di dalam produknya. Selain itu, Dania juga meminta bantuan pada teman-teman desain untuk memberinya masukan bahkan sampai kolaborasi.

Ke depannya, Dania berharap dapat memiliki partner bisnis dan akan sangat memudahkan Dania apabila partner tersebut memiliki latar belakang desain, dengan tujuan supaya dapat mengimbanginya dalam bekerja.
 
Jika melakukannya dengan senang, otomatis akan jadi senang, lelahnya gak terasa.
Dania Arsella

Belajar Menikmati Proses

Mungkin kamu ingin tahu, apa saja yang dikerjakan Dania setelah menyelesaikan tugas kuliahnya dulu? Dania merasa bisnisnya ini berpeluang untuk dikembangkan, bukan hanya clutch, Dania juga berharap dapat membuat produk fashion lain dengan bahan dasar kayu. Itulah mengapa Dania mengubah nama memilih nama Merits. Dengan harapan nama tersebut bisa mewakili fashion items yang lebih beragam, bukan hanya pembuatan clutch. Selain itu, market yang ingin dituju Dania juga bukan hanya di Indonesia, itu artinya tugas Dania untuk memetakan pasar harus lebih luas lagi.

Dengan memproduksi dalam jumlah terbatas, Dania pada awalnya akan mempelajari selera pasar, apa yang benar-benar mereka minati. Setelah memastikan hal tersebut, baru Dania akan menciptakan produknya dalam skala yang lebih besar. Sementara itu, rencana pemasaran pada awalnya akan dilakukan melalui daring, setelah itu baru merambah offline store. Hal tersebut merupakan bagian dari proses uji coba, atau lebih dikenal dengan istilah trial dan error.

Dalam berbisnis, Dania paham bahwa perjalanannya akan dipenuhi oleh trial and error. Itu merupakan tahapan yang tidak bisa dihindari, dan memang sebaiknya tidak dihindari. Justru melalui proses tersebut kita akan memetik banyak pelajaran berharga untuk berkembang. Itulah kenapa Dania menyarankan anak-anak muda untuk dapat belajar menikmati proses.

Proses yang ditempuh Dania begitu beragam; mulai dari mengubah jurusan di Sekolah Menengah Atas, yang semula IPA menjadi IPS, sampai vendor yang hampir menipunya. Namun, Dania tidak gentar. Semua itu dilalui Dania dengan gigih. Itu juga menjadi pesan kedua yang disampaikan Dania, supaya tidak gampang menyerah. Selain itu, Dania juga percaya bahwa pebisnis harus konsisten terhadap pilihan dan rencana yang telah dirancang. Penting untuk benar-benar memahami rencana yang telah dibuat dan terus merealisasikannya.

Sudahkah kamu mengetahui apa yang kamu senangi? Kira-kira, apakah kamu juga akan konsisten menjalaninya sampai terealisasikan? Baca kisah inspiratif lain dari tokoh inspiratif lainnya hanya di KARENA.ID