Peran Seni Kolektif Terhadap Produk Budaya di Dunia

Oct 12 / AMANDA ANDINA NUGROHO

Mengenal Wok The Rock

Menerapkan nilai kolaborasi dalam berkarya, Wok The Rock (Woto Wibowo) menyelesaikan pendidikannya di Institus Seni Indonesia Yogyakarta pada tahun 2004. Sejak saat itu, Mas Wok sering mengikuti kegiatan residensi seniman. Beberapa program residensi yang Ia ikuti yaitu Asia-Europe Foundation (2007) di Cork Dublin, Irlandia; Australia-Indonesia Institute (2012) di Melbourne, Australia; Koganecho Bazaar 2013 Artist-In-Residence di Yokohama, Jepang; dan Research-in-recidency (2014) di Lagos, Nigeria dalam rangka Bienalle Jogja XIII.
Penerapan kolaborasi dalam karya seni kolektif Mas Wok sendiri diawali pada keaktifannya di scene punk tahun 1996. Pada masa ini, Mas Wok mempelajari hidup komunal bersama anak-anak punk di Jogja. Dari kehidupan komunal tersebut Ia belajar bahwa DIY atau Do It Yourself tidak selalu dimaknai dengan membuat berbagai hal seorang diri. Yourself di sini bisa mengacu pada kita sekelompok orang yang membuat sesuatu sendiri. Melalui sub-kultur punk ini juga Mas Wok belajar tentang movement atau pergerakan yang di mana pada masa Orde Baru masih sangat terbatas. Dari kedua hal yang Ia pelajari, munculah akar kolaborasi yang Mas Wok terapkan dalam karya seni kolektifnya.

Seni Kolektif

Seni kolektif merupakan kolaborasi antara dua seniman atau lebih yang saling berbagi ide dan perspektif dalam pengerjaan karya mereka masing-masing untuk tujuan bersama sesuai dengan pesan yang ingin diungkapkan. Pada kegiatan kolektif tersebut, para seniman biasanya bertukar pikiran dan opini mengenai hal politik, ekonomi, dan sosial yang mereka miliki. Lalu pikiran tersebut disampaikan melalui estetika karya seni mereka. Hal ini dilakukan untuk mencapai tujuan bersama yang mereka bangun serta untuk mendapatkan semakin banyak dukungan.
Tidak terpaku pada satu disiplin ilmu maupun aliran seni, kegiatan kolektif ini menggabungkan berbagai ilmu mulai dari musik, pertunjukan, seni rupa, audiovisual, mode, arsitektur, dan masih banyak lagi. Salah satu peran yang berkontribusi selain seniman yaitu motivator. Mereka yang tergabung dalam seni kolektif ini terkadang datang dengan tujuan yang masih abu-abu. Walaupun begitu, motivator tidak seperti seniman yang tidak selalu berkelanjutan dalam suatu kegiatan kolektif. Hal ini membantu kegiatan untuk mengurangi biaya produksi. Pembauran yang terjadi dalam kolektif seni ini membantu para seniman mengembangkan gagasan serta pendekatan yang akan digunakan. Hal ini meningkatkan kapasitas kreasi seniman sebagai makhluk individu.

Peran Seni Kolektif

Gerakan seni kolektif yang dijalankan oleh kelompok-kelompok seniman ini memengaruhi gerakan sosial yang ada dalam menghadapi peristiwa-peristiwa sejarah dunia. Melalui gerakan ini, seniman tidak hanya menjadikannya sebagai ekspresi estetik melainkan sebagai wadah penyampaikan pikiran serta bentuk protes terhadap isu yang ada di sekitarnya.
Salah satu contohnya yaitu adanya sub-kultur seperti hip hop dan punk. Karya musik yang berasal dari kedua sub-kultur ini menghasilkan beberapa bentuk hal langgaran untuk mengekspresikan pikiran, opini, dan bentuk protes terhadap stereotip juga kebijakan pemerintah. Beberapa hal yang bisa kita lihat yaitu menari dan grafitti yang sering dilakukan di jalanan maupun sudut ruang publik. Kedua kegiatan ini menjadi bagian dari ekspresi anak muda serta penyampaian opini mereka terhadap pemerintah di mana ruang publik yang seharusnya inklusif untuk masyarakat menjadi eksklusif dan terbatas.
Kamu penasaran dengan pergerakan seni kolektif terutama di Indonesia? Dengarkan kisah seniman Arief Yudi dan Wok The Rock hanya di Karena Podcast!