Urban Toys, Designer Toys, dan Art Toys, Apa Bedanya?

Aug 30 / Sarita Laras
Sumber:freepik.com
Apakah kamu pernah mendengar konsep mainan indie? Mainan tersebut kini nyatanya tengah menjadi tren di masyarakat, utamanya di kalangan dewasa. Mainan indie merujuk kepada jenis mainan yang diproduksi khusus dengan semangat gerakan anti mainstream. Mainan tersebut kini dikenal dengan istilah urban toys, designer toys, dan art toys.

Secara umum, ketiganya menampilkan karakter dalam bentuk tokoh (figure) tiga dimensi yang terbuat dari vinyl, soft vinyl, dan juga resin. Dari segi harga, urban toys, designer toys, dan art toys, memang cenderung lebih tinggi dibanding dari mainan mainstream lainnya. Itu mengapa, ketiganya juga tidak mudah ditemukan di pasaran.

Lalu, apa yang membedakan urban toys, designer toys, dan art toys?

Urban Toys

Urban toys bisa dikatakan merupakan generasi pertama dari tiga jenis mainan indie yang telah disebutkan sebelumnya. Dinamai urban karena produk mainan yang dihasilkan terinspirasi dari pop culture, urban culture, ataupun urban art.

Urban toys sendiri pertama kali diperkenalkan oleh seniman Hong Kong, Michael Lau, sekitar tahun 1997-1998. Lau kerap mengaplikasikan gaya urban, seperti grafiti maupun street art pada karya-karyanya.

Adapun bahan untuk membuat urban toys adalah vinyl, soft vinyl, dan resin. Desainer biasanya memilih salah satu jenis bahan tergantung dari kondisi bujet yang dimiliki. Di samping itu, urban toys tidak diproduksi secara massal. Sebab, produksi mainan ini murni dari desainer langsung, mulai dari pemilihan desain hingga proses produksinya. Hal itu berbeda dengan konsep produksi massal mainan mainstream seperti Hasbro, yang desain dan bahannya didikte oleh perusahaan.
Urban Toys karya Michael Lau/Dok. actionfiguren-shop

Designer Toys

Memasuki tahun 2001 hingga 2002, mulai banyak desainer yang tertarik untuk membuat urban toys. Mereka mayoritas memiliki latar belakang sebagai graphic designer atau character designer, seperti Joe Ledbetter, Huck Gee, Steven Lee & Raymond Choy, dan masih banyak lagi. Itulah mengapa, pada gelombang kedua ini kemudian istilah designer toys berkembang.

Salah satu contoh designer toys yang cukup populer adalah Qee series. Mainan tersebut diproduksi di Hong Kong oleh perusahaan Toy2R yang didirikan oleh Steven Lee & Raymond Choy. Qee memiliki ukuran standar setinggi 2 inch. Ia mempunyai desain yang bervariasi, yaitu dengan bentuk badan hampir sama, tapi bentuk kepala dibuat beraneka ragam, seperti beruang, anjing, monyet, dan tengkorak.
Qee series/Dok. Amazon

Art Toys

Sekitar tahun 2014, mulai banyak seniman fine art (seni murni) yang menekuni pembuatan urban toys, salah satunya adalah Roby Dwi Antono. Itulah mengapa kemudian produk yang dihasilkan disebut sebagai art toys.

Art toys terdiri dari berbagai macam jenis, tergantung dari bahan baku pembuatannya serta karakter mainan yang dibuat. Saat ini, terdapat art toys yang cenderung lebih modern dengan menggunakan warna-warni cerah dan juga yang bernuansa gelap. Sementara, dari segi bentuk dan ukurannya, semua tergantung kepada desainer mainan, misalnya ada yang bertema futuristik atau juga berwujud boneka hewan. Sekali lagi, itu semua tergantung kepada ide dan kreativitas desainer. .
Asteria karya Roby Dwi Antono/Dok. artcollectorz.
Dengan demikian dapat disimpulkan, urban toys, designer toys, dan art toys merupakan gelombang-gelombang yang menandai kemunculan mainan indie dalam periode tertentu. Setiap gelombang dimotori oleh kelompok yang memiliki kesamaan latar belakang. Meski begitu, ketiganya tetap sama-sama mengusung semangat gerakan anti mainstream dan menekankan pada kebebasan berekspresi serta kreativitas masing-masing. Melalui konsep tersebut, masyarakat dapat menikmati karya orisinil dari para desainer.

Ke depannya bukan tidak mungkin akan muncul istilah baru dari jenis mainan indie ini. Dengan catatan, kreasi mainan tersebut terinspirasi dari ide orisinil desainernya sendiri.
Empty space, drag to resize

Artikel Terbaru