Storial.co: Upaya Aulia Halimatussadiah Mengembangkan Bisnis Literasi

Jan 22 / Abi Ardianda

Bagi yang nggak asing lagi dengan dunia literasi, brand Storial tentu kedengaran familiar.

Platform digital tersebut menyediakan ruang buat siapa saja untuk menerbitkan tulisan secara gratis. Kita hanya perlu membuat akun dengan melakukan registrasi di website storial.co, kemudian kita bisa bebas mengunggah karya. Selain itu, kita juga dapat membaca ratusan cerita yang sudah diunggah dari beragam genre. Sebagian cerita dilabeli premium, itu artinya kita perlu membayar untuk membacanya. Sisanya dapat kita baca secara gratis.

Pada tahun 2015, Aulia Halimatussadiah bersama kedua rekannya membangun Storial dengan harapan dapat menjembatani para penulis dan pembaca secara daring. 

Membaca Buku Minimal 1 Judul 1 Hari

Aulia Halimatussadiah yang akrab dipanggil Lia sudah senang membaca sejak umur empat tahun. Lia pertama kali berkenalan dengan komik di majalah Bobo. Nggak berhenti di situ, Lia kemudian belajar membuat komik sendiri. Waktu itu Lia rajin menulis manga, istilah komik yang dipopulerkan Jepang. Cerita yang ditulis Lia rupanya seringkali terlalu panjang, sampai nggak cukup ditampung oleh kotak-kotak yang juga berisi gambar dalam komik. Akhirnya, Lia menyerah membuat komik dan fokus menulis saja. Semasa SMP dan SMA, Lia aktif menulis puisi dan cerpen lalu mengirimkannya ke media massa. Namun, karena selalu mendapat penolakan, akhirnya Lia hanya menjadikannya hobi. Ketertarikan Lia di bidang teknologi, serta didukung beberapa teman dari luar negeri, mendorong Lia untuk membuat website sendiri dan menerbitkan puisinya secara independen di sana.
Ketika lulus kuliah dan bekerja, Lia memenangkan beasiswa creative writing dari Gagas Media dan berhasil menerbitkan novel pertamanya berjudul Look! I’m On Fire, yang kemudian menjadi best seller. Bekal pengetahuan dari Gagas Media yang didapat Lia mengenai teknik merancang plot sampai mengembangkan karakter terus diperdalam Lia, sampai akhirnya saat ini Lia telah menerbitkan lebih dari 30 judul buku.

Lia mengaku nggak pernah kehabisan ide atau mengalami writer’s block. Seringkali, Lia justru kesulitan menyaring ide-ide yang bertebaran di dalam kepalanya. Lia percaya, hal itu terjadi karena Lia rajin membaca. Dalam sehari, Lia membaca minimal satu judul buku. Buku-buku yang dipilih Lia disesuaikan dengan kebutuhan. Saat ini, Lia sedang menulis buku tentang spiritual, maka Lia memiliki daftar judul sebanyak 30 buku untuk digunakannya sebagai referensi. Lia nggak cuma membaca buku yang bersifat literal, melainkan juga non literal, di mana dirinya terbiasa membaca situasi, keadaan, maupun raut wajah manusia. Itulah mengapa, bagi Lia, dirinya nggak pernah kehabisan ide.

Ketika ditanya buku yang menjadi favorit, Lia mengaku nggak bisa menyebutkannya satu per satu, karena terlalu banyak. Namun, beberapa nama sempat dijagokan Lia. Fernando Pessoa, penulis Portugis dan Orhan Pamuk, dari Turki, termasuk para penulis yang dianggap Lia kampiun.
Rajin membaca dapat membuat kita terhindar dari writer's block.

Teknologi Sebagai Gerbang Untuk Berbisnis

Ketika menerbitkan puisi di website yang Lia ciptakan sendiri saat SMP, Lia sadar bahwa teknologi dapat memecahkan masalah manusia sehari-hari. Terbukti dirinya telah mendapat solusi untuk menerbitkan karya sendiri melalui platform digital. Lia kemudian mulai menjabarkan permasalahan yang umumnya dihadapi para penulis. Salah satu tantangannya adalah menemukan pembaca. Berangkat dari sana, Lia berinisiatif menciptakan Storial, supaya penulis dapat dengan mudah menemui pembacanya melalui daring.
Keunggulan Storial lainnya adalah para penulis dapat mengunggah buku per bab. Lia percaya, para penulis seringkali merasa kewalahan ketika harus menyelesaikan bukunya terlebih dahulu sebelum mengirimkan naskah. Alhasil, naskah mereka tidak kunjung selesai dan mereka kerap meninggalkan pekerjaannya di tengah jalan. Lia berharap Storial juga dapat menjadi solusi bagi masalah tersebut. Dengan mengunggah tulisan per bab, penulis otomatis dapat termotivasi untuk segera melanjutkan tulisan sebab ada pembaca yang menantinya.

Dengan memosisikan diri sebagai pengusaha, tentu saja Lia juga melihat tulisan yang dihasilkan oleh setiap penulis sebagai produk bisnis. Lia ingin para penulis yang tergabung di Storial juga dapat meraup keuntungan dari karyanya. Maka, setiap tulisan yang telah berhasil lolos kurasi, tim redaksi akan melabelinya sebagai premium, yaitu tulisan berbayar. Kini, pendapatan penulis di Storial cukup beragam. Mulai dari ratusan juta hingga ratusan ribu, tergantung sejauh mana penulis tersebut dapat membangun engagement dengan pembaca.

Para penulis yang berhasil meraih kesuksesan tersebut nggak cuma berdomisili di Jakarta, melainkan di seluruh Indonesia. Lia menganggap, apabila upah minimum di daerah berkisar di angka 1,5 juta sampai 2 juta, penghasilan yang mereka dapatkan di Storial bisa lima sampai sepuluh kali lipat. Kesuksesan tersebut, ditambah testimonial yang dia dapatkan dari para penulis maupun pembaca, dipandang Lia sebagai kesuksesannya sendiri karena telah menjadikan teknologi sebagai gerbangnya untuk menggerakan suatu bisnis.

Kesuksesan Lia menggunakan teknologi di bidang literasi melahirkan pertanyaan lain, yaitu tren teknologi di masa mendatang. Menurut Lia, meski saat ini orang fokus pada artificial intelligence, yang lebih penting adalah kemampuan beradaptasi untuk menjadi lebih fleksibel. Contohnya masa pandemik sekarang membuat segala hal menjadi tak menentu. Hanya mereka yang dapat beradaptasi dengan baik yang dapat bertahan. Tren teknologi terkini sudah seharusnya digunakan untuk memudahkan urusan medis; seperti pemesanan kamar rumah sakit, obat, dan keperluan lain melalui aplikasi.

Menyikapi pandemik, Lia berinisiatif membuat table of love melalui sosial media yang dimilikinya. Itu istilah yang dipilih Lia di mana seseorang dapat mencantumkan apa yang dimiliki dan dibutuhkan olehnya pada sheet Ms.Excel di Google Drive dan dapat diakses oleh siapa pun. Sehingga kebutuhan dan sumber daya manusia bisa bertemu untuk memberikan keuntungan bagi satu sama lain. “I do everything I can,” begitu Lia menambahkan.

Teknologi dapat memecahkan masalah manusia sehari-hari.

Aulia Halimatussadiah

Keseimbangan Adalah Kunci Dari Banyak Hal

Selain membangun Storial, Lia juga merupakan founder dan co-managing dari Girls In Tech Indonesia, sebuah organisasi non-profit global di Indonesia yang mendorong perempuan menguasai bidang teknologi. Lia ingin mematahkan stigma yang beredar bahwa teknologi itu hanya untuk laki-laki, yang menggambarkan para laki-laki ahli teknologi terbiasa tidak tidur berhari-hari, merokok, dan hanya menggunakan sarung. Lia menunjukkan bahwa para perempuan juga bisa menjalankan bisnis dengan bantuan teknologi, sekaligus tetap melakukan manikur dan pedikur. Hal dasar yang perlu dilakukan adalah memberikan para perempuan akses, fasilitas, kemudian biarkan mereka melakukan eksplorasi sendiri.
Didirikan secara Internasional di Amerika, Lia menyuarakan Girls In Tech Indonesia ke beberapa daerah, seperti Makassar, Bandung dan Bali, meski kantornya terletak di Jakarta.

Untuk dapat mengenali bakat di bidang teknologi, Lia menyarankan untuk nggak memadamkan rasa penasaran yang menyala dalam diri. Rasa penasaran itu semestinya bisa menggiring kita untuk menemukan solusi. Dalam prosesnya, kita akan menemukan apa yang menjadi minat kita dan kita bisa mengasahnya. Keseimbangan logika dan rasa juga penting. Lia percaya intuisi, ditambah keseimbangan tersebut telah membawanya ke titik ini, di mana dengan logikanya dia mampu menyelesaikan segala sesuatu secara terstruktur, tetapi juga tidak meninggalkan nilai estetika pada setiap sentuhan.

Lia menganjurkan, hal lain yang perlu diseimbangkan adalah energi. Kita dianugrahi energi berlimpah dan sebaiknya kita tahu ke mana dan bagaimana menyalurkannya, termasuk untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari. Terkadang, ketika sudah terlalu lelah bekerja, Lia senang duduk memandang panroma alam atau memasak. Atau sesederhana menonton film ringan sebelum tidur. Itu membantunya untuk tetap merasa segar, secara fisik maupun mental.

Ketika ditanya bagaimana Lia lebih senang dipandang oleh publik, apakah sebagai penulis, pebisnis, atau pakar teknologi, Lia menjawab bahwa dirinya ingin dikenal sebagai sosok yang mencintai hidup. Mungkin dengan cinta, segala hal akan terus terasa hidup.

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu sudah menemukan hal yang membuatmu mencintai hidup? Temukan cerita inspirasi lainnya di sini.