Serba-serbi Generasi Sandwich yang Perlu Kamu Ketahui

Jun 13 / Sarita Laras
Sumber:unsplash.com
Generasi sandwich kini telah menjadi istilah yang familier terdengar. Ada berbagai macam cerita mengenai generasi sandwich yang mudah ditemukan, baik di media sosial, berita, maupun platform lainnya. Rerata mereka mengaku sulit menggunakan secara penuh uang yang dihasilkan karena harus menanggung biaya hidup generasi di atas dan di bawahnya. Kondisi terhimpit di antara dua generasi, membawa pada sebuah analogi sebagai isian sandwich yang terjepit di antara dua roti.

Adapun Istilah generasi sandwich pertama kali diperkenalkan oleh seorang Profesor sekaligus Direktur Praktikum University of Kentucky, Dorothy A. Miller, pada 1981. Generasi sandwich diartikan sebagai kelompok orang dewasa yang harus menanggung beban hidup dari tiga generasi, yakni orang tua, diri sendiri, dan saudara, anak atau bahkan cucu mereka.

Beberapa sumber menyebut, menjadi generasi sandwich bisa dialami laki-laki maupun perempuan pada rentang usia 30 hingga 40 tahun. Namun, saat ini juga banyak dijumpai generasi sandwich yang berada pada usia pertengahan 20 tahun ke atas.

Di Indonesia, jumlah generasi sandwich belum diketahui secara pasti. Meski begitu, melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2017, jumlah generasi sandwich bisa jadi cukup besar. Sebab, terdapat 77,82 persen dari 23,66 juta lansia yang ditanggung biaya rumah tangga mereka oleh anggota rumah tangga (ART) yang bekerja. Hal itu mengindikasikan ada puluhan juta orang yang berpeluang menjadi generasi sandwich.

Jenis-jenis Generasi Sandwich

Dari jumlah tersebut, generasi sandwich pun dibagi dalam beberapa kategori. Seorang ahli Aging and Elder Care, Carol Abaya, mengkategorikan generasi sandwich dalam tiga jenis berdasarkan peran masing-masing. Apakah kamu termasuk salah satunya?

  • The Traditional Sandwich Generation

Orang dewasa berusia 40 hingga 50 tahun yang masih harus menanggung beban orang tua berusia lanjut dan anak-anak yang masih membutuhkan dukungan finansial.

  • The Club Sandwich Generation

Orang dewasa berusia 30 hingga 60 tahun yang terhimpit lebih dari dua generasi. Mereka masih harus menanggung beban orang tua, anak, cucu jika sudah ada, serta nenek dan kakek jika masih hidup.

  • The Open Faced Sandwich Generation

Siapa pun yang merawat lansia, terkecuali pengurus panti jompo, dapat digolongkan pada kelompok ini.

Hal yang Harus Dilakukan saat Menjadi Generasi Sandwich

Menjadi generasi sandwich tentu bukanlah hal yang mudah. Kamu bisa saja sering dihinggapi rasa lelah fisik dan mental karena harus menanggung hidup tiga generasi atau lebih. Jika terus dibiarkan,  maka berpotensi akan menyebabkan depresi.

Oleh karena itu, saat menjadi generasi sandwich, ada beberapa hal yang mesti kamu lakukan supaya beban yang diemban tak terlampau berat, di antaranya:

  • Kelola Penghasilan dengan Bijak

Dalam mengelola keuangan, pertama, kamu bisa menggunakan alokasi gaji dengan formula 50/30/20. Kamu bisa mengalokasikan 50 persen gaji untuk kebutuhan sehari-hari, seperti makan dan minum, listrik, transportasi, dan lain sebagainya. Kemudian, 20 persen di antaranya bisa kamu gunakan untuk rekreasi dan sisanya, 30 persen, bisa kamu tabung.

Di samping itu, juga ada alokasi yang lebih kompleks, yakni 40/30/20/10. Pada rumus ini, gunakan 40 persen dari gaji untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk cicilan, 20 persen untuk ditabung, dan 10 persen untuk rekreasi dan amal. Pilihlah formula yang paling sesuai dengan kondisimu dan kuatkan komitmen untuk mematuhinya.

  • Menabung dengan Rutin

Setelah mengatur alokasi gaji, saatnya menyiapkan tabungan seoptimal mungkin. Misalnya, kamu menyiapkan tabungan pendidikan, rumah, atau hari tua sedini mungkin. Dengan mulai menabung, kamu akan memiliki pegangan saat menghadapi berbagai kebutuhan di masa depan sehingga bebanmu kelak tidak akan terlalu berat.

Untuk membangun kebiasaan menabung, kamu bisa menggunakan fitur auto debit dari berbagai platform. Maka, nantinya uang di dalam rekeningmu akan terpotong secara otomatis dan rutin untuk disimpan dalam tabungan.

  • Meningkatkan Literasi Keuangan

Literasi keuangan dapat diartikan sebagai pengetahuan dan kemampuan seseorang dalam mengelola keuangan secara optimal. Makin tinggi literasi keuangan seseorang, makin tinggi pula mereka pada berbagai tujuan keuangan, misalnya terbebas dari jerat generasi sandwich.

Untuk meningkatkan literasi keuangan, ada beberapa cara yang yang bisa kamu lakukan. Cara ini cukup mudah dan bahkan tidak dipungut biaya, contohnya  dengan mengikuti webinar atau seminar dari lembaga keuangan seperti bank dan lainnya; siaran langsung beberapa perencana keuangan terpercaya di Instagram; dan ada juga program edukasi dari pemerintah. Rajin-rajinlah mencari info untuk mendapatkan pengetahuan keuangan yang berharga.

  • Miliki Asuransi Kesehatan

Membuat asuransi kesehatan adalah pilihan yang paling tepat untuk diri sendiri, orang tua, saudara, maupun anak. Kepemilikan asuransi membuatmu mendapatkan jaminan kesehatan untuk rawat inap, rawat jalan, melahirkan, dan berbagai pengobatan lainnya.

Kamu bisa memilih asuransi kesehatan dari pemerintah, BPJS, atau dari swasta yang telah terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

  • Kurangi Gaya Hidup Konsumtif

Sebagai generasi sandwich, kamu perlu ketat dalam masalah keuangan. Jika selama ini kamu merasa cukup konsumtif, maka sudah saatnya untuk mengeremnya. Caranya, tanamkan pada dirimu untuk selalu memprioritaskan kebutuhan ketimbang keinginan. Coba periksa dulu apakah semua biaya kebutuhanmu telah terpenuhi sebelum memenuhi keinginan.
Perencanaan matang dan disiplin adalah kunci untuk keluar dari permasalahan kala menjadi generasi sandwich. Teruslah menguatkan motivasi dan carilah berbagai suntikan semangat di luar sana.
Drag to resize