5 Profesi Ajaib Ipang Wahid

Apr 3 / Abi Ardianda

Sudah lebih dari 500 iklan TV disutradarai oleh sosok Ipang Wahid, atau lengkapnya Irfan Asy'ari Sudirman Wahid. Beberapa di antaranya telah meraih berbagai penghargaan baik di dalam maupun luar negeri. 

Saat ini, beliau tergabung di beragam organisasi sosial. Mulai dari Ketua Kelompok Kerja Industri Kreatif KEIN, sampai di Kamar Dagang dan Industri (KADIN). Setelah menamatkan pendidikan S1 di Institut Kesenian Jakarta, Ipang melanjutkan pendidikan ke The Art Institute of Seattle, Amerika Serikat, jurusan Music and Video Business. Dalam wawancara Ipang bersama tim KARENA.ID, Ipang sempat membeberkan 5 profesi ajaib yang pernah digelutinya dalam industri kreatif tanah air. 

  Berbisnis Angkutan Kota Sampai Lemari

Siapa yang menyangka, Ipang Wahid pernah mengajukan proposal kepada kedua orang tuanya sebesar 1,5 juta rupiah untuk menjalankan usaha angkutan kota yang memberinya penghasilan sebanyak Rp 22.000,- sehari. 

Karena tidak memberi keuntungan, Ipang kemudian beralih pada bisnis lemari. Sengaja, ia mencari kayu jati berkualitas dengan pilihan terbaik dari Lampung dan mendapatkan desainnya dari seorang pengrajin daerah Klender. Setiap bulan, Ipang memproduksi lemari dan kembali menjualnya. Bagi Ipang, profesi ini merupakan tahapan yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan suksesnya. Meski bisnis tersebut tidak dapat terus ia geluti dan tidak memberikan keuntungan berlimpah, namun keberhasilan yang dia raih saat ini juga tidak dapat terwujud tanpa melalui tahapan atau kegagalan tersebut.

  Desainer

Sebagai lulusan jurusan desain, tentu saja Ipang pernah menjalani profesi sebagai desainer. Selain mendesain kaos, Ivan juga ternyata pernah melakukan desain untuk kaset. Pada masanya, Ivan pernah berkesempatan untuk mendesain logo perusahaan sampai sampul kaset. Salah satu kliennya saat itu adalah Ongky Alexander. 

Hal yang membedakan pekerjaannya sebagai desainer pada zaman dulu dan masa kini, salah satunya adalah pembuatan prototype setting. Untuk membuat prototype setting, Ipang bercerita bahwa dirinya perlu datang ke tempat di mana dia bisa memesan font, warna, bentuk, sampai ukuran. Itu baru proses untuk membuat layout. Perbedaan lain yang juga terasa adalah sumber referensi. Ketika membuat suatu komponen desain, referensi yang digunakannya masih didapatkannya dari surat kabar atau majalah, yang harus dia kumpulkan secara manual dan dia jadikan buku. Sehingga buku tersebut selalu dibawanya kemana-mana, termasuk saat meeting dengan klien. 

Dengan sumber referensi tak berbatas yang dimiliki oleh generasi millennial saat ini, mulai dari Google sampai Pinterest, Ipang menganggap bahwa para pekerja kreatif saat ini beruntung atas kemudahan yang dimiliki. Referensi yang tersedia, baik nasional sampai internasional seolah tidak ada habisnya. Seharusnya, mereka juga dapat menghasilkan karya yang juga lebih baik sebab Ipang mengakui bahwa kualitas mereka dari segi selera juga berada jauh di depan. Siapa yang menyangka, Ipang Wahid pernah mengajukan proposal kepada kedua orang tuanya sebesar 1,5 juta rupiah untuk menjalankan usaha angkutan kota yang memberinya penghasilan sebanyak Rp 22.000,- sehari. 

Karena tidak memberi keuntungan, Ipang kemudian beralih pada bisnis lemari. Sengaja, ia mencari kayu jati berkualitas dengan pilihan terbaik dari Lampung dan mendapatkan desainnya dari seorang pengrajin daerah Klender. Setiap bulan, Ipang memproduksi lemari dan kembali menjualnya. Bagi Ipang, profesi ini merupakan tahapan yang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan suksesnya. Meski bisnis tersebut tidak dapat terus ia geluti dan tidak memberikan keuntungan berlimpah, namun keberhasilan yang dia raih saat ini juga tidak dapat terwujud tanpa melalui tahapan atau kegagalan tersebut.

  Menjalani Beragam Profesi di Movie Industry 

Setelah lulus dari IKJ, Ipang bercerita pernah bergabung dalam rumah produksi yang diasuh oleh Mira Lesmana. Berikut merupakan posisi yang pernah dijabat oleh Ipang Wahid:

  • Production Assistant: seseorang yang memiliki tanggung jawab untuk kelancaran produksi secara teknis, mulai dari kelengkapan alat sampai kesiapan crew.


  • Production Coordinator: seorang production coordinator bekerja selama masa pra-produksi. Ia bertugas untuk menyiapkan kantor dan kelengkapan produksi, mengatur seperangkat alat yang dibutuhkan sampai semua kebutuhan para staff. Ia juga yang mengurus keperluan perjalanan, akomodasi, surat izin kerja, sampai jadwal pengambilan gambar saat produksi dan naskah bagi para pemain.
     

  • Producer: produser film adalah seseorang yang menginisiasi sebuah proyek film dan terlibat secara aktif dalam seluruh proses produksi. Dimulai dari pengembangan, pencarian dana, praproduksi, produksi, pascaproduksi, hingga film tersebut didistribusikan dan bertemu dengan penontonnya.


  • Assistant Director: Seseorang yang memperhatikan administrasi penting sehingga departemen produksi selalu mengetahui perkembangan terbaru dalam proses pengambilan gambar. Secara teknis, tugas assistant director meliputi Shooting Schedule, Call Sheet, menyiapkan cast sampai Directing Extras. Secara non teknis, assistant director dituntut mampu mencari input dari berbagai departemen baik kreatif maupun manajemen terkait seluruh proses produksi.

  • Film Director: Tugas sutradara atau film director adalah bertanggung jawab atas segala kegiatan produksi film; mulai dari ide kreatif film, alur cerita dan konten cerita, memberitahukan aktor atau aktris tentang adegan yang dilakukan, memilih lokasi pembuatan film, menentukan soundtrack lagu pada film, menentukan durasi film dan menentukan waktu pengambilan film. 

  Politikus

Berkecimpung di industri kreatif tidak membuat Ipang berhenti melakukan eksplorasi. Ranah politik adalah salah satu bidang yang juga diselami Ipang. Sebagai bentuk eksplorasinya, Ipang terdaftar sebagai pelopor dan Tim Ahli pembuatan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekonomi Kreatif. Tidak sampai di situ, ia juga dikenal sebagai penasihat dan konsultan bagi banyak tokoh dan institusi politik yang memiliki peran penting dalam proses penyusunan kebijakan publik di Tanah Air.

  Modern Farmer

Ipang memiliki sebuah kebun yang dia modifikasi. Baginya, 50% dari kebun tersebut hanyalah bentuk alami, atau bawaan. Sementara 50% sisanya merupakan pengalaman psikologi orang-orang yang mengunjunginya berdasarkan referensi, pengetahuan serta pengalaman mereka masing-masing ketika memandang kebunnya. Selama pandemi, Ipang mengolah lahan yang dimilikinya di Desa Kopo, Cisarua, Bogor. Menerapkan metode aqua agriculture, atau upaya mengoptimalisasi lahan dengan komoditas yang maksimal, Ipang berusaha membudidayakan lobster. 
Beragam profesi yang pernah dijalani Ipang memberinya pelajaran berharga mengenai teknik komunikasi dengan berbagai orang dari bermacam-macam kalangan. Selain itu, melalui sederetan profesi tadi, Ipang juga menyadari bahwa kreativitas itu merupakan pola pikir. Itu seperti keyakinan yang kita tanamkan pada diri sendiri; sehingga apabila kita berpikir bahwa kita tidak kreatif, maka kita sudah membatasi diri dengan memotong separuh kapasitas dalam pikiran untuk mendorong kita berpikir kreatif. 

Selalu menerima tantangan, berpikir berbeda, tidak melulu mengikuti arus dan menciptakan trend sendiri adalah kiat-kiat yang diberikan Ipang untuk dapat menjembatani kreativitas dengan penghasilan. Kira-kira, apakah Anda sudah memiliki gambaran mengenai profesi atau rencana kreatif yang dapat dilakukan untuk dapat menjembatani Anda dengan penghasilan? Temukan cerita inspirasi lainnya hanya di KARENA.ID.

Sources:
rencanamu.id  
screenskills.com
studioantelope.com
ideseducation.com
lazone.id