Paskalis Kunang Mengolah Emosi Dalam Bentuk Seni Rupa

Dec 26 / Abi Ardianda

Dalam diri setiap manusia ada kegelisahan-kegelisahan yang seringkali diabaikan.

Kegelisahan itu terselip di antara kesibukan sehari-hari. Dengan begitu, kita berharap kegelisahan itu akan lenyap dengan sendirinya. Menguap seperti asap. Sayangnya, hidup tak bekerja sesederhana itu. Kegelisahan yang biasa kita abaikan akan terus mengintai hingga suatu hari membuat kita takluk.

Paskalis Kunang, yang lebih dikenal dengan nama Mr.Kumkum justru melihat kegelisahan-kegelisahan yang mendesaknya sebagai sesuatu yang berharga. Dia lalu mengubahnya menjadi karya seni senilai puluhan juta rupiah.

Memulai Perjalanan Dengan Kegagalan 

Sebelum karyanya diundang ke salah satu pameran kesenian di Amerika, Mr. Kumkum bahkan gagal membuat sebuah patung menggunakan bahan dasar tanah liat. Saat itu, kembali ke tahun 2007-2008, sebagai mahasiswa FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Design), Mr.Kumkum bergabung dengan komunitas yang diinisiasi oleh Darbotz. Dia merupakan seniman mural asal Bandung yang kini karyanya sudah dinantikan oleh para pemuda di Brasil untuk menghiasi dinding kota mereka.

Sebagai pelajar, mereka aktif menghadiri beragam pameran, salah satunya Ranger Bastard, yang menampilan kolektif seni mulai dari graffiti, design sneakers, sampai paper toys. Ditambah majalah yang membahas urban art, salah satunya majalah Konsep, yang kemudian menyulut semangat dalam diri Mr.Kumkum untuk menciptakan character design.

Dia memulai karya melalui digital. Namun etelah layar teknologi tidak mampu lagi memberi kepuasan, Mr.Kumkum beralih membuat mainan karakter menggunakan tanah liat. Tetapi, mainan yang dibuatnya tak sesuai ekspektasi dan akhirnya hanya jadi kenangan tersendiri yang tidak pernah ditunjukkan kepada siapa pun.

Kemudian, Mr.Kumkum kembali pada ketertarikannya dengan graffiti dan komunitas Darbotz. Baginya, graffiti adalah salah satu karya seni yang ukurannya berpeluang mendapat perhatian besar. Dinding-dinding di Bandung dan Jakarta rutin menjadi kanvasnya. Sampai suatu hari, salah satu rekannya mengadakan pameran dan mengundang Mr.Kumkum untuk berpatisipasi. Saat itu, Mr.Kumkum sekaligus memamerkan painting dan art toy.

Tanpa diduganya, art toy yang dipamerkan Mr.Kumkum mendongkrak banyak perhatian, terutama dari para pengguna Instagram. Sejak itu, permintaan untuk custom untuk art toy mulai berdatangan. Para konsumen mengirimkan art toy mereka dari luar negeri untuk dibuatkan custom oleh Mr.Kumkum, kemudian dikirim kembali setelah pesanannya selesai. 
Sebagian besar pemesan justru berasal dari manca negara.

Kegelisahan yang Dijejalkan Dalam Seni Rupa

Mr.Kumkum bercerita bahwa medium yang dapat digunakan untuk membuat art toy beragam; mulai dari resin, alumunium, plastik, vinyl, sampai besi. Setelah menciptakan sketsa 2D, Mr.Kumkum dibantu oleh design artist 3D untuk kemudian dibuatkan 3D modelling. Dia kemudian beralih pada proses molding, recasting, kemudian painting. Membagi waktu sebagai pegawai di salah satu agensi Jakarta, saat itu Mr.Kumkum sempat keteteran. Hasilnya jadi setengah-setengah.

Setelah dia memutuskan resign dan fokus pada karyanya, dia kemudian mendapat 20 sampai 50 pesanan setiap bulan. Terutama di masa Covid-19 seperti saat ini, pesanan yang didapat Mr.Kumkum lebih ramai dari biasanya. Penghasilannya pun mencapai puluhan juta rupiah.

Namun, tentu saja karena beberapa negara saat ini memiliki masalah dengan pengiriman, beberapa pesanan terpaksa ditahan oleh imigrasi karena harus mengikuti peraturan setempat. Salah satunya adalah art toys yang diikut sertakan Mr.Kumkum pada sebuah pameran di Amerika, yang seharusnya diadakan bulan April lalu. Sampai hari ini terpaksa masih mendekam di imigrasi.

Ketika ditanya mengenai inspirasi, Mr.Kumkum memberitahu bahwa setiap art toy yang diciptakannya merupakan luapan emosi yang dia rasakan. Salah satu art toy yang diikut sertakannya dalam pameran di Amerika berbentuk ular. Baginya, ular selalu kelihatan tenang, menantimu untuk mendekat tanpa bersikap agresif. Namun sekali kamu berada dalam jerat, kamu mendadak tidak berkutik. Dia akan melilitmu sampai mati. Kurang lebih, itulah yang dirasakan Mr.Kumkum mengenai Jakarta.

Mr.Kumkum merangkum isu serupa dalam setiap art toy yang diciptkannya. Kegelisahan-kegelisahan yang dibentuknya menjadi art toy telah menerbangkannya ke beragam negara; Thailand, Singapore, sampai Taiwan.

Meski mahir menggali isu sarat makna, nama Mr.Kumkum sendiri dianggapnya tidak sedalam seperti yang kita bayangkan. Karena bernama Paskalis Kunang Prawiro, ketika sekolah dia akrab dipanggil Kunang, Kumbang, Kuman, sampai seorang guru memanggilnya Kumkum, yang merupakan salah satu jenis monyet. Sejak itu, nama Kumkum dipilihnya untuk mewakili graffiti yang dia ciptakan, juga karya-karya lainnya hingga hari ini. 

Art toy yang diciptakan Mr. Kumkum mayoritas terinspirasi dari luapan emosi yang dirasakannya.

Eksplorasi Adalah Kunci

Mr.Kumkum juga membagi kiat-kiat keberhasilannya bagi para seniman muda yang tertarik untuk memilih jalur yang sama dengan yang dipilihnya. Dia percaya bahwa kegagalan tidak seharusnya menghentikan seseorang untuk terus melakukan eksplorasi. Ketika karya yang kita ciptakan belum mendapat atensi, atau apresiasi, itu adalah waktu yang tepat untuk terus melakukan eksplorasi. Sebab semesta sudah merancang jalan bagi sebuah karya yang hebat di waktu yang tepat. Jadi, sebaiknya kita tidak berhenti di tengah jalan.

Melakukan eksplorasi berarti sekaligus melakukan cross genre dalam seni. Itu adalah istilah di mana kita mengawinkan dunia yang beredar. Kita enggak perlu terpaku hanya pada art toy. “kombinasikan beberapa genre seni sekaligus dan temukan identitasmu yang otentik,” kata Mr.Kumkum.

Selain itu, personal management juga menjadi aspek yang sangat penting. Itu merupakan hal yang hingga kini masih dipelajarinya. Kemampuan kita mengelola ide, waktu, kemampuan dan strategi bisnis akan membantu kita meraih kesuksesan. Itu adalah elemen-elemen yang harus secara konsisten kita terapkan dan tidak bisa dipisahkan.

Ke depannya, selain melanjutkan kolaborasi dengan musisi lain dan merambah design otomotif, Mr.Kumkum berharap dirinya juga dapat menciptakan figurnya sendiri untuk dijadikan karya yang autentik, tidak lagi memuat custom. Seperti karakter KLAWS, sebuah robot degan huruf X yang menghiasi sepasang bola mata, yang sejauh ini merupakan karakter idaman Mr.Kumkum.

Belajar dari Mr.Kumkum, mungkin kini sudah saatnya kita berhenti mengabaikan kegelisahan-kegelisahan yang melintas di dalam diri. Apabila kita juga bisa mengonversikannya ke dalam sebuah karya seni, bukankah baik apabila pada akhirnya kita juga mendapat keuntungan dari sana? Temukan kisah inspiratif lain yang telah kami rangkum dalam KARENA.ID.