Memahami Deadliner, “si Pencari Sensasi”

Aug 6 / Sarita Laras
Sebagian orang memilih untuk mengerjakan tugas saat mendekati deadline. Alasannya, karena pada saat itulah otak lebih tertantang dan banyak ide bermunculan sehingga tugas menjadi cepat rampung. Berbeda saat mengerjakan tugas jauh-jauh hari, pikiran akan terasa lambat dan inspirasi sulit untuk muncul. Apakah kamu salah satu dari penganut kebiasaan ini? Jika iya, secara tidak langsung kamu bisa jadi merupakan “The Sensation Seeker” alias si pencari sensasi.

Merujuk kepada
Psychology Today, sensation seeker adalah seseorang yang cenderung mengejar sensasi, perasaan, dan pengalaman baru dan berbeda dari kebiasaan pada umumnya. Sensasi ini di satu sisi dapat menghadirkan pengalaman yang menyenangkan, tapi di sisi lain cukup berisiko. Meski begitu, itu bukan halangan. Para sensation seeker tetap terdorong untuk menaklukkan tantangan dan menyerap setiap pengalaman baru.

Deadliner adalah salah satu kelompok dari sensation seeker yang banyak dijumpai. Mereka cenderung menyukai pekerjaan pada saat injury time atau masa-masa panik, seperti beberapa jam atau sehari sebelum tenggat waktu. Beberapa deadliner mengaku tidak merencanakan pola kerja mepet seperti itu. Hal tersebut datang secara alami ketika mereka mendapatkan tugas.

Lantas, kamu tim mana? Deadliner atau tidak?

Di satu sisi,  deadliner dipandang sebagai hal yang positif karena bisa membuat seseorang menjadi lebih fokus karena pikirannya hanya tertuju pada satu tugas. Hasilnya, banyak ide-ide kreatif bermunculan sehingga tugas pun dapat diselesaikan dengan cepat. Singkatnya,  di bawah tekanan waktu mereka justru lebih produktif.

Namun, apakah semua benar-benar berhasil dengan sistem deadliner? Realitasnya, tak jarang ide-ide kreatif juga sulit muncul saat pekerjaan sudah mendekati masa tenggat. Dalam kondisi tergesa-gesa, seseorang cenderung menyelesaikan tugas seadanya alias hanya untuk memenuhi kewajiban sehingga luaran yang dihasilkan tidak maksimal.

Di samping itu, sisi kesehatan kadang menjadi hal yang sering diabaikan oleh para deadliner. Padahal kesehatan adalah salah satu hal yang paling berharga. Kebanyakan deadliner menyelesaikan pekerjaan mereka dengan begadang sepanjang malam sehingga kekurangan jam tidur. Hal itu tentunya tidak bagi kesehatan karena sudah bukan rahasia lagi orang yang kurang tidur lebih rentan menderita penyakit jantung. Selain itu, kurang tidur juga membuat seseorang lebih berisiko menderita diabetes, stroke, obesitas, kanker, hingga masalah kesehatan mental, seperti gangguan suasana hati dan kecemasan. Jika sudah demikian, ini malah akan mempengaruhi kinerja kita dalam jangka waktu panjang ke depannya.

Oleh karena itu, meski deadliner menghadirkan sensasi yang menarik, sebaiknya tetap memiliki manajemen waktu yang mumpuni dalam bekerja.

Nah, supaya tidak terjebak dalam kebiasaan deadliner terus-menerus, kamu bisa menerapkan trik-trik berikut:

Buat To Do List

To do list akan membantumu supaya tidak ada pekerjaan yang terlewat. Di sisi lain, ini juga akan memotivasimu untuk segera menyelesaikan tugas yang ada. Sebab, ketika makin banyak to do list yang tertempel, mungkin kamu akan merasa risih atau terganggu.

Buat Skala Prioritas

Dalam satu waktu, kamu mungkin memiliki beberapa tugas yang harus diselesaikan. Buatlah skala prioritas dengan melihat tenggat waktu dan urgensinya. Misalnya apakah tugas tersebut penting dan mendesak atau penting tapi tidak mendesak.

Gunakan Sistem (10+2)x 5

Sistem kerja yang pertama kali diperkenalkan oleh Merlin Mann ini bisa membantumu lepas dari kebiasaan menunda-nunda. Dalam satu hari, kamu bisa bekerja 10 menit lalu istirahat 2 menit. Ulangi metode tersebut sebanyak 5 kali sehingga tak terasa kamu telah bekerja secara produktif.

Jauhkan Gawai

Gawai bisa menjadi alasanmu menjadi seorang deadliner. Oleh karena itu, saat tugas mulai berdatangan, mulailah untuk meminimalkan penggunaan gadget jika tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Itu akan membuatmu lebih fokus dan menghasilkan luaran yang maksimal.

Dekatilah Teman yang Sedang Bekerja

Tidak bisa dimungkiri, lingkungan bisa memengaruhi motivasimu dalam menyelesaikan pekerjaan.  Jika kamu dekat dengan lingkungan yang santai-santai saja, kamu bisa jadi tidak jadi akan terpacu untuk menyelesaikan tugasmu dengan segera. Sementara itu, apabila kamu berada di dekat rekan yang serius bekerja, sedikit banyak itu akan memacu untuk melakukan hal serupa.
Bagaimana, sudah cukup memahami deadliner si “sensation seeker”? Setelah membacanya, mau tetap mencoba atau meninggalkannya?
Empty space, drag to resize

Artikel Terbaru