Kassian Cephas: Sosok Pertama dari Dunia Fotografi Indonesia

Jun 17 / Amanda Andina Nugroho

Sosok Kassian Cephas

Pemilik karya fotografi “Tamansari”, Kassian Cephas, lahir pada tanggal 15 Januari 1845 di Kota Yogyakarta. Kassian bekerja sebagai fotografer di Gereja dan menikah dengan Dina Rakijah di tahun 1866 dan memiliki empat anak. Sem, anak pertamanya, merupakan asisten Ayahnya ketika sedang mengambil gambar. 

Karya Fotografi Kassian Cephas

Karya pertama Kassian Cephas dimulai dari foto pertamanya yaitu pada tahun 1872 yang berjudul “Barabudur”. Foto pertama Kassian diambil saat Groneman mengajaknya untuk bergabung menjadi anggota Vereeniging Voor Oudheid yang pada saat itu meneliti kebudayaan dan sejarah Jawa. Karyanya pun diabadikan dalam tulisan In den Kedaton te Jogjakarta yang berisi 16 karya cetak.

Pada tahun 1886, Kassian membeli kamera baru dengan kecepatan potret 1/400 kali dalam satu detik. Kamera ini membantunya dalam pengambilan gambar agar tidak terlalu lama menunggu gambar terpotret. Tiga tahun kemudian, Kassian Cephas menjadi fotografer situs bersejarah dengan Candi Prambanan sebagai salah satu objek utama. Selain itu, Ia juga memotret komplek Candi Borobudur, terutama relief Karmawibhangga, yang ditemukan pada tahun 1885.

Karena terkendala dengan subsidi pemerintah, Kassian memutuskan untuk menyelesaikan sepertiga dari proyek situs bersejarah. Dalam proyek tersebut, ia telah memotret 160 foto dari 300 foto relief yang diminta untuk menjelaskan situs bersejarah. Di tahun 1912, Kassian Cephas meninggal dengan mewariskan banyak karya yang memiliki kontribusi besar. Tidak hanya di bidang seni, karyanya juga membantu para ilmuwan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dari sejarah yang ia tinggalkan.

Perjalanan di Dunia Fotografi

Di awal dekade tahun 1860-an, Kassian kembali ke Yogyakarta dan bekerja kepada Simon Willem Cimerik, seorang fotografer juga milisi berpangkat Letnan Dua. Tidak hanya berguru dengan Simon Willem Cimerik, Kassian juga belajar dari Isidore van Kinsbergen, seorang fotografer Belgia yang sedang bekerja di Jawa Tengah pada tahun 1863-1875. Satu lagi sosok berpengaruh dalam perjalanan karir Kassian di dunia fotografer yaitu Isaac Groneman. Ia bertemu dengan Groneman saat sedang bekerja menjadi Abdi Dalem. Isaac Groneman sendiri pada saat itu menjabat sebagai dokter pribadi Sultan Hamengkubuwono VI. Sejak tahun 1861-1870 Kassian Cephas dilatih sebagai fotografer dan Gronemanlah yang merekomendasikannya sebagai fotografer kerajaan kepada sultan pada awal tahun 1870-an.

Kassian Cephas sendiri menjadi orang Indonesia pertama yang menggeluti dunia fotografi, membangun karirnya, dan menjadikannya sebagai pekerjaan utama. Ia memulai karirnya menjadi fotografer keraton, lalu menjadi anggota Vereeniging Voor Oudheid dan membangun bisnis fotonya di rumah.