Lima Nyawa Karya Sekar Puti Sidhiawati

Apr 4 / Abi Ardianda

Setelah memiliki anak, Sekar Puti Sidhiawati, seorang seniman keramik yang kini menetap di Bali dan membangun studio bernama Arta Derau mendapati beragam tantangan untuk berkarya.

Selain keterbatasan fisik pasca melahirkan selama beberapa waktu, orang-orang di sekitarnya menganggap momentum tersebut sebagai penanda bahwa karirnya sebagai seniman telah selesai. Hal tersebut begitu membuatnya terpukul, perasaan yang muncul kemudian berusaha ia tekan, namun dorongan untuk kembali berkarya justru semakin menguat. Keputus asaan itu ia hadapi dengan nekat kembali menghasilkan karya-karya baru. Hasil karyanya setelah itu justru bermuatan karakter yang kuat, sarat dukungan bagi sesama perempuan. Berikut lima karakter yang menjadi ciri khas Puti dalam karyanya.

  Woman Empowerment

Para perempuan yang juga menyuarakan women empowerment, atau dukungan sesama perempuan telah berlangsung lama dan menggunakan beragam medium.
Mereka hadir di tengah masyarakat sebagai aktivis, penulis, peneliti, sampai bergerilya di ranah politik. Puti telah memilih caranya sendiri. Tergerak dari salah satu cerita miris yang didapat Puti tentang seorang ibu yang tidak memiliki ASI, yang kemudian memberi bayinya dengan air putih, Puti kemudian memberi sentuhan ironi yang serupa di dalam karya-karyanya. 
Tujuannya supaya melalui pekerjaan tangannya, Puti dapat menebarkan dukungan dan semangat bagi sesama perempuan. Spirit itu tersirat dari beberapa karya Puti yang berupa tubuh perempuan dengan bentuk yang beragam, tidak hanya mewakili bentuk yang ideal sesuai standar. 
Puti juga memadukannya dengan warna-warna yang berani; seperti merah, kuning dan biru. Ditambah kutipan-kutipan singkat yang menggaungkan gema, seperti ‘you don’t have to prove shit’, atau ‘how to avoid hurting yourself’. Lukisan wajah-wajah perempuan juga senantiasa hadir melengkapi karya-karya elok Puti. 

  Menampilkan Keseharian Domestik

Puti menerjemahkan definisi domestik sebagai rumah, atau keseharian. Hal yang berada begitu dekat dengan kita. Namun seringkali luput kita sadari karena kehadirannya yang konstan membuatnya seolah tidak lagi istimewa. Pada akhirnya, kita juga cenderung mengabaikannya. Lebih buruk dari itu, kita terkadang menyia-nyiakannya. Hal tersebut tersirat dari materi yang dipilih oleh Puti dalam berkarya, yakni keramik yang dianggapnya sebagai material untuk digunakan sehari-hari. Mulai dari lantai yang kita pijak, atau wastafel, bahkan sampai kitchen utensil dan table wear. Semua itu diciptakan Puti menggunakan tangan, tujuannya supaya dapat membangun intimasi dengan konsumennya. Perasaan yang tidak akan hadir apabila Puti murni menggunakan mesin dalam memproduksi seluruh karyanya.

  Sisipan Kegelisahan

Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia hidup diliputi kegelisahan. Ada orang-orang yang memilih mengenyampingkannya sambil terus menjalani hari, ada yang kemudian menyorotinya, ada juga orang seperti Puti, yang mengolah kegelisahan dan menyisipkannya ke dalam karya seni. Puti bercerita bahwa ada saat di mana dirinya berkarya karena didorong oleh tekanan dan kegelisahan. Hasilnya, karya yang ia ciptakan hadir dengan jujur dan membawa spirit yang sebelumnya ia rasakan. Para konsumen yang menyambut karyanya juga akan merasakan nuansa tersebut, sehingga mereka merasa terhubung dalam perasaan yang familier. Barangkali, itu juga yang memberi nilai lebih bagi karya-karya Puti. Keterhubungan secara emosi yang sangat intim antara audience dan sang seniman. 

  Humor dan Sarkasme

Puti menerjemahkan definisi domestik sebagai rumah, atau keseharian. Hal yang berada begitu dekat dengan kita. Namun seringkali luput kita sadari karena kehadirannya yang konstan membuatnya seolah tidak lagi istimewa. Pada akhirnya, kita juga cenderung mengabaikannya. Lebih buruk dari itu, kita terkadang menyia-nyiakannya. Hal tersebut tersirat dari materi yang dipilih oleh Puti dalam berkarya, yakni keramik yang dianggapnya sebagai material untuk digunakan sehari-hari. Mulai dari lantai yang kita pijak, atau wastafel, bahkan sampai kitchen utensil dan table wear. Semua itu diciptakan Puti menggunakan tangan, tujuannya supaya dapat membangun intimasi dengan konsumennya. Perasaan yang tidak akan hadir apabila Puti murni menggunakan mesin dalam memproduksi seluruh karyanya.

  Pertanyaan Tentang Hidup

Karena hidup tidak selalu memberikan jawaban, Puti kemudian memasukkan beragam pertanyaannya tentang hidup ke dalam karya. Mungkin, dengan melakukan hal tersebut, Puti juga tidak sedang mengharapkan jawaban. Puti hanya ingin mengajak audience-nya untuk berefleksi, sehingga ketika mereka menemukan pertanyaan-pertanyaan dalam hasil karya Puti, mereka bisa bertemu dan merenungkan misteri yang serupa. Lagi-lagi, dalam cara seperti ini, Puti seolah sedang membangun jembatan dengan audience untuk menjalin interaksi yang intim seperti yang didambakannya. 
Dari ke lima karakter tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa Puti telah menemukan nyawa yang ingin diembuskannya ke dalam karya sebagai identitasnya sebagai seniman. Semoga artikel ini dapat membantumu menemukan gayamu sendiri yang dapat kamu tiupkan pada apa pun bentuk karyamu.
Terima kasih telah membaca salah satu artikel berdasarkan tokoh inspiratif kita kali ini. Ikuti terus kisah inspiratif lainnya hanya di KARENA.ID. 

Sumber foto:
https://www.instagram.com/artaderau/
https://www.tokoartaderau.com/