Karena Bertemu Vol.04

Apr 17 / Amanda Andina Nugroho

Di tahun yang baru, Karena Bertemu kembali hadir dengan wajah yang baru! Karena Bertemu dibuka untuk umum sehingga publik dapat turut berdiskusi bersama dengan beberapa komunitas di Indonesia. Pada tanggal 31 Januari 2021, Karena Bertemu mengusung tema “Mempertahankan Budaya Lokal di Dunia” serta berkolaborasi dengan komunitas SAL Gamelan, Wan Dance Studio, dan Jabu Sihol.

Pertemuan kali ini diawali dengan perkenalan singkat dari tiap komunitas, yang pertama yaitu SAL Gamelan. Didirikan dengan nama Samurti Andaru Laras, komunitas ini bertujuan untuk menyediakan wadah bagi anak muda yang ingin belajar seni serta kebudayaan Indonesia. Salah satu fokus utama kesenian yang diajarkan yaitu Gamelan Jawa.
Dilanjutkan oleh komunitas kedua yang datang dari Pekanbaru yaitu Wan Dance Studio. Komunitas ini berangkat dari adanya permasalahan pada perkembangan dunia tari yang stagnan. Selain itu, komunitas ini menyediakan wadah bagi para seniman tari untuk berkembang dan mengeksplorasi lebih jauh sehingga tidak hanya bergantung pada Parade Tari Riau.
Komunitas terakhir datang dari Sumatera Utara yaitu Jabu Sihol. Berlatar belakang kebudayaan Batak, Jabu Sihol ingin melestarikan serta memberdayakan budaya sekaligus masyarakat Batak. Kontribusi serta kerja sama yang terjalin harmonis antara masyarakat lokal dengan komunitas Jabu Sihol dapat membawa kebudayaan Batak serta destinasi pariwisata di Sumatera Utara dikenal di kancah Internasional.
Adanya kesamaan latar belakang di bidang kesenian dan budaya, kali ini Karena Bertemu berdiskusi terkait bagaimana komunitas di Indonesia dapat mempertahankan budaya lokal di era globalisasi. Berikut tiga keynotes yang bisa kita simpulkan dari diskusi ini :

Pertama, kita semua sepakat dengan frasa “Think globally, act locally” namun pada prakteknya di kehidupan sehari-hari masih banyak dari kita yang belum menyadari berharganya kebudayaan Indonesia yang perlu dilestarikan.

Kedua, tidak 100% anak muda Gen Z sudah dapat mengapresiasi kebudayaan lokal Indonesia. Perlu adanya strategi pendekatan yang dibuat oleh komunitas seni dan budaya di Indonesia agar apresiasi budaya lokal tetap bertahan hingga generasi selanjutnya.

Ketiga, tanggapan terkait ekspektasi bertahannya budaya lokal 10 tahun kedepan sebagai komunitas yang bergerak dalam bidang kesenian dan budaya optimis namun tetap realistis. Kembali ke poin dua bahwa diperlukan strategi pendekatan serta effort lebih untuk memperbaiki mindset anak muda sebagai fondasi sebelum mengikuti arus global.