Karena Bertemu Vol.03

Apr 17 / Amanda Andina Nugroho

Pada hari Minggu, 13 Desember 2020, Karena Bertemu kembali hadir dengan tema diskusi “Bagaimana Gen Z melihat dan menyikapi perkembangan kesenian lokal saat ini?”. Diskusi kali ini, Karena berkolaborasi dengan tiga komunitas yang bergerak di bidang kesenian yaitu Komunitas Film Jakarta, Le Tricoteur, dan Kolektif Hysteria. 

Sebelum memulai diskusi, Karena Bertemu diawali dengan perkenalan dari Komunitas Film Jakarta. Komunitas ini diinisiasi oleh Ka Alfi dengan tujuan untuk membentuk wadah bagi para peminat dan pegiat industri film di wilayah Jakarta dan sekitarnya.
Dilanjut dari komunitas kedua, datang dari Le Tricoteur dengan komunitasnya yang bergerak di bidang kerajinan tangan yaitu merajut. Selain bergerak di bidang kerajinan tangan, Le Tricoteur juga bergerak dalam aksi sosial melalui karya mereka. 
Komunitas terakhir datang dari Kolektif Hysteria yang berasal dari Semarang. Kolektif Hysteria merupakan collaboration creative impact hub yang diadaptasi dari Bandung Creative Hub. Komunitas ini bergerak melalui kolaborasi dan pengembangan anak muda, kota, kampus, serta komunitas. 
Berfokus pada pengembangan serta kolaborasi dalam bidang kesenian, diskusi Karena Bertemu kali ini membahas tentang perkembangan kesenian lokal yang ada. Terdapat empat keynotes yang dapat kita garis bawahi, yaitu : 

Pertama,
lingkungan berpengaruh pada bagaimana pemikiran serta sikap anak muda pada kesenian lokal. Hal ini dikarenakan adanya standar dan nilai-nilai yang dibentuk dalam masyarakat sendiri.

 
Kedua, masyarakat terutama anak muda masih memiliki persepsi yang salah dalam dunia kesenian. Persepsi yang salah ini mengakibatkan adanya sikap kurang menghargai pada karya seni yang ada. 

Ketiga, media sosial merupakan fasilitas yang ideal untuk mengenal perkembangan kesenian lokal saat ini. Pemilihan media sosial disesuaikan oleh preferensi Gen Z yang lebih nyaman dengan penggunaan media audio visual. 

Keempat, kita dapat mengapresiasi serta menghargai sebuah budaya apabila kita hidup dan berkembang dengan menanamkan nilai budaya tersebut dalam hidup kita sejak kecil. Akses lingkungan terhadap budaya dan sebuah kesenian yang menentukan bagaimana masyarakat bersikap terhadap kesenian lokal.