Jenis-Jenis Tipografi Indonesia dalam Aksara

Dec 8 / Erlin Dyah Pratiwi
Bayangkan kamu sedang jalan ke mall. Di pintu masuk, kamu melihat papan bertuliskan logo dan nama mall dilengkapi dengan tagline. Setelah naik ke lantai atas, matamu langsung tertuju pada tulisan “SALE” di sebuah store pakaian yang mengusung konsep hidup minimalis, elegan, dan sederhana dengan logo berwarna merah asal Jepang. Kalian yang sudah puas belanja lalu lanjut makan di foodcourt dan memesan bubble tea yang sedang hits.

Yes! Saat itu kamu sudah terpapar oleh 3 contoh tipografi yang diaplikasikan pada logo mall, brand pakaian Jepang, dan
bubble tea.

Apa itu Tipografi?

Oke, kamu mungkin sempat berpikir: “Apa sih sebenarnya tipografi itu?”

Secara singkat, tipografi berarti sistem atau teknik penyusunan aksara atau huruf, teks, maupun simbol baik dalam media cetak maupun digital. Melalui tipografi, seorang desainer dapat menarik perhatian audience dengan menggunakan jenis huruf, ukuran huruf, serta warna huruf tertentu yang disesuaikan dengan brand image sebuah produk.

Jenis-Jenis Tipografi dalam Aksara

Seperti Romeo dan Juliet, tipografi dan aksara juga tidak dapat dipisahkan. Keduanya sama-sama dibutuhkan untuk menjelaskan konsep yang dibuat oleh desainer agar bisa dipahami dengan mudah oleh target audience. Karena selain logo atau gambar, sebuah desain juga sangat memerlukan aksara untuk menuliskan pesan yang ingin disampaikan.

Coba kamu lihat logo Uniqlo. Brand pakaian asal Jepang ini menggunakan rangkaian aksara Katakana dalam logonya. Katakana merupakan huruf yang dipakai oleh orang Jepang untuk menuliskan kata asing di luar bahasa Jepang. Kalau pernah mempelajari huruf Katakana, kamu pasti akan langsung tahu bahwa Uniqlo merupakan brand dari Jepang begitu melihat logonya.
Sumber:brandslogo.com
Bukan hanya Jepang, Indonesia juga memiliki aksara. Kalau kita flashback ke masa lalu, aksara yang pertama kali ditemukan di wilayah Indonesia adalah aksara Pallawa yang terukir di prasasti Yupa. Prasasti ini ditemukan pada tahun 1879 sebagai bukti peninggalan Kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Nah, seiring dengan berkembangnya zaman, aksara tersebut mengalami perubahan dan bertransformasi menjadi beberapa aksara turunan. Aksara-aksara ini bahkan ada yang sudah lama terlupakan karena sangat jarang digunakan atau tidak terdokumentasi dengan baik.
Apa saja jenis-jenis tipografi yang bisa ditemukan pada aksara di Indonesia? Simak ulasannya berikut ini:

1. Aksara Jawa

Sumber:news.okezone.com
Seperti yang kamu tahu, suku Jawa merupakan suku terbanyak yang ada di Indonesia dengan jumlah persentase lebih dari 40% total penduduk Indonesia. Sebagai suku mayoritas, suku Jawa sudah mengalami sejarah yang panjang dalam hal perkembangan aksara.

Tahukah kamu, sekitar abad ke-78 masehi, masyarakat Jawa sudah mengenal aksara Jawa yang dibawa oleh Aji Saka? Aksara Jawa ini merupakan turunan dari aksara Jawa Kawi atau Jawa Kuna yang berinduk pada aksara Pallawa. Secara garis besar, aksara Jawa terdiri dari huruf konsonan dan vokal yang digabungkan sehingga membentuk suku kata sebanyak 25 huruf, yaitu ha-na-ca-ra-ka, da-ta-sa-wa-la, pa-dha-ja-ya-nya, ma-ga-ba-tha-nga. Kalau kamu perhatikan, aksara ini memiliki kecenderungan bentuk huruf yang melengkung naik-turun dengan paduan bentuk simpul di beberapa bagian.

2. Aksara Sunda

Sumber:medium.com
Suku Sunda berada di peringkat kedua sebagai mayoritas suku terbanyak yang ada di Indonesia setelah suku Jawa. Meski begitu, aksara Sunda pernah terlupakan dalam jangka waktu yang lama karena beberapa hal. Salah satunya karena pernah dilarang digunakan secara resmi saat VOC berkuasa sekitar tahun 1700-an. Aksara Sunda Kuno ini pertama kali ditemukan di Astana Gede, Ciamis, Jawa Barat.

Kalau aksara Jawa tidak ada huruf vokal yang berdiri sendiri, aksara Sunda justru memilikinya. Aksara Sunda terdiri dari 32 huruf, 7 huruf merupakan huruf vokal atau aksara Swara dan 25 huruf berupa konsonan yang juga disebut aksara Ngalagena. Huruf vokalnya terdiri dari a, é, i, o, u, e, dan eu. Sementara huruf konsonannya yaitu ka-ga-nga, ca-ja-nya, ta-da-na, pa-ba-ma, ya-ra-la, wa-sa-ha, fa-va-qa-xa-za, kha-sya.

Kalau dilihat dari sisi jenis-jenis tipografi, aksara Sunda ini memiliki bentuk yang lebih tegas dan kaku dengan kecenderungan bentuk persegi di beberapa bagian dibandingkan dengan aksara Jawa. Tapi seperti halnya aksara Jawa, aksara Sunda juga telah resmi terdaftar sebagai Unicode yang bisa kamu gunakan untuk penulisan secara digital.

3. Aksara Batak

Sumber:kibrispdr.org
Setelah aksara Jawa dan Sunda, kita akan mengulas aksara Batak. Aksara Batak merupakan turunan aksara Kawi yang berinduk dari aksara Brahmi asal India. Dulu, aksara ini banyak dituliskan melalui media kulit kayu, tulang, dan bambu. Kamu bisa membaca dokumentasi sejarah tentang aksara ini di dalam buku History of Sumatra karya William Marsden yang terbit tahun 1784.

Ada lima varian yang bisa kamu temukan dalam aksara Batak, antara lain: Karo, Pakpak, Mandailing, Simalungun, dan Toba. Kalau kamu lihat, aksara Batak memiliki bentuk yang relatif berbeda dengan aksara Jawa dan Sunda. Aksara Batak terlihat lebih sederhana dengan didominasi garis lengkung.

4. Aksara Bali

Sumber:pinterest.com.au
Seperti halnya aksara Batak, aksara Bali juga merupakan turunan aksara Kawi yang berinduk pada aksara Brahmi. Aksara ini sudah digunakan sejak abad ke-15 hingga sekarang, meski penggunaannya sudah semakin berkurang. Biasanya, aksara ini dituliskan dengan media lontar atau daun palem.

Jenis-jenis tipografi tiap aksara itu berbeda meski memiliki beberapa kemiripan antara satu dengan lainnya. Sekilas, aksara Bali sangat mirip dengan Aksara Jawa. Misalnya saja sama-sama diawali dengan ha-na-ca-ra-ka. Yang membedakannya dengan aksara Jawa adalah aksara Bali tidak memiliki huruf dha dan tha yang bisa kamu temukan dalam aksara Jawa. Selain itu, huruf-huruf aksara Bali ini lebih melengkung dan lebih cembung daripada aksara Jawa.