Hustle Culture: Saat Kerja Terlalu Keras Justru Menjadi Kontraproduktif

Aug 18 / Sarita Laras
Pernahkah bekerja terlalu keras hingga lupa makan dan tidur? Kamu terus bekerja melewati batas karena terdorong sebuah harapan bernama "kesuksesan", baik dalam hal karier maupun ekonomi. Jika kamu mengalaminya, ini bisa digolongkan sebagai hustle culture. Istilah ini menjadi salah satu yang paling populer di kalangan pekerja, khususnya para milenial.

Nah, usut punya usut ternyata hustle culture ini bukan merupakan budaya kerja yang baik untuk kamu praktikkan. Cara kerja ini bisa merugikanmu secara fisik dan mental sehingga malah membuatmu kontraproduktif. Mengapa demikian? Sebelum mengetahui alasannya, kenali lebih dulu pengertian dan ciri-ciri dari hustle culture.

Apa Itu Hustle Culture dan Bagaimana Ciri-cirinya?

Merujuk kepada Kementerian Ketenagakerjaan Indonesia, hustle culture merupakan standar di masyarakat yang menganggap kamu hanya bisa mencapai kesuksesan jika benar-benar mendedikasikan hidupmu untuk pekerjaan. Kamu akan bekerja sekeras-kerasnya hingga menempatkan pekerjaan di atas segalanya.

Jika kamu mengalami tanda-tanda berikut, bisa jadi kamu sudah terperangkap dalam hustle culture:
  • Selalu memikirkan pekerjaan dan tidak memiliki waktu santai;
  • Memiliki target yang tidak realistis;
  • Muncul rasa bersalah saat beristirahat;
  • Sering mengalami burnout atau kelelahan kerja;
  • Tidak pernah puas dengan hasil pekerjaan.


Dengan menerapkan budaya kerja seperti itu, apakah kesuksesan akan datang menghampiri? Jawabannya belum pasti. Sebab jika diamati, ketika tubuh diforsir untuk terus bekerja, maka yang terjadi adalah kelelahan baik secara fisik maupun mental. Tenaga yang terkuras dan waktu istirahat yang kurang bisa menurunkan daya tahan tubuh sehingga kamu lebih mudah sakit. Risiko penyakit yang lebih serius juga bisa menghantuimu, seperti diabetes, stroke, kanker, dan lainnya. Sementara itu, saat lelah secara mental, kamu akan lebih mudah stres, marah, dan mengalami gangguan suasana hati lainnya.

Jika sudah demikian, bukannya rampung sesuai harapan, pekerjaan malah akan membutuhkan lebih lama waktu untuk diselesaikan alias kontraproduktif dengan tujuanmu di awal. Hasilnya pun belum tentu sesuai yang diharapkan. Itu mengapa salah satu tanda-tanda seseorang terjebak dalam hustle culture adalah selalu merasa tidak puas dengan apa yang dikerjakan.

Di samping itu, kamu pun akan kehilangan work life balance. Kamu perlahan kehilangan waktu untuk bersosialisasi dengan lingkungan, sahabat, dan untuk hobimu sendiri. Menjalani hidup yang tidak seimbang seperti bom waktu yang bisa merugikanmu suatu saat.

Tips Menghindari Hustle Culture

Supaya terhindar dari hustle culture, pertama kamu bisa mendefinisikan kembali apa arti kesuksesan. Kenali dirimu lebih baik dan tetapkan standar sukses menurutmu. Jangan hanya membuat standar sukses hanya dari perspektif orang lain.

Setelah memahami arti sukses versimu, mulailah mempraktikkan batasan kerja yang jelas, dari batasan jam kerja per hari hingga jumlah beban kerja. Jangan lupa untuk mengevaluasi kebiasaanmu selama ini, apakah sudah menerapkan cara kerja yang efektif dan efisien? Apakah kamu sudah mengalokasikan waktu untuk keluarga, orang terdekat, atau hobimu? Cobalah memikirkannya sesekali supaya kamu bisa menemukan pola hidup terbaik.
Terakhir yang tak kalah pentingnya adalah perhatikan kesehatanmu. Jika kamu sudah merasa lelah bekerja, jangan segan untuk istirahat. Buang jauh perasaan bersalah saat mengambil jam waktu untuk jeda. Nyatanya, dengan beristirahat yang cukup, itu akan membuatmu lebih produktif.
Empty space, drag to resize

Artikel Terbaru