Era Digitalisasi di Mata Teguh Wicaksono

May 25 / Abi Ardianda

Kita mungkin sepakat bahwa perubahan adalah sesuatu yang mustahil dipisahkan dari perjalanan hidup seseorang.

Narasumber Karena kali ini, Teguh Wicaksono, mengaku telah beberapa kali mengubah haluan hidupnya. Mulai dari bergabung dalam sebuah band , sampai menulis untuk berbagai media besar, mulai dari National Geographic, Jakarta Post dan Twitter. Saat ini Teguh menjabat sebagai posisi brand & editorial manager Netflix. Selain itu, Teguh juga membangun sebuah perusahaan mandiri yang memiliki spesifikasi dalam pengarsipan musik dari waktu ke waktu di Indonesia, dengan nama Sounds From The Corner. Di tengah persimpangan serta perubahan yang dilalui oleh Teguh, ia menyadari bahwa era digitalisasi merupakan latar belakang yang memantik setiap pergantian tersebut. Kali ini, kita akan membahas bagaimana era digitalisasi mengubah car akita mengonsumsi arus informasi, khususnya bagi media musik di Indonesia.

1. Attention Spend

Ketika mengenyam pendidikan S1 di FIKOM UNPAD, Teguh bercerita bahwa ia pernah menghadiri mata kuliah in depth reporting, di mana dia membuat laporan yang begitu komprehensif. Ketika saat ini ia menoleh lagi ke belakang, ia mendapati bahwa ketentuan yang dulu diberlakukan sebagai kode etik jurnalistik tidak lagi relevan. Saat ini, justru sebuah informasi akan lebih efektif apabila direkonstruksi dari segi bentuk dan muatannya supaya dapat disimak oleh waktu audiens yang terbatas. Bukan hanya format, tetapi isi informasi dan cara penyampaian juga memegang peranan penting. Teguh mengambil contoh Twitter, bagaimana kita dapat mengkurasi sebuah informasi dengan cara yang menarik hanya dalam 280 karakter?

2. Kode Etik Jurnalisme

Dalam jurnalistik, Teguh kembali mengingatkan kita mengenai kode etik. Dalam kode etik jurnalisme, terangkum sebuah peraturan di mana sebuah informasi yang ideal bukan hanya harus kredibel, melainkan juga faktual. Hilangnya sekat-sekat kurasi bagi sebuah informasi semenjak dimulainya era digital berisiko melahirkan rumor atau beragam berita bohong. Arus menyesatkan itu akan sulit diredam dan apabila kita sebagai audiens tidak bijak memilih informasi mana yang sebaiknya kita simak serta mana yang bisa kita abaikan, arus tersebut dapat menyesatkan. Kesimpulannya, kode etik dalam jurnalistik kini tidak lagi memiliki kemampuan menghalau arus informasi digital.

3. Katanya, “Anak muda malas membaca.” Benarkah?

Pernah mendengar seseorang berceloteh bahwa anak muda malas membaca? Menanggapi argumen tersebut, Teguh mengaku tidak setuju. Era digitalisasi telah mengubah bentuk dan kemasan informasi sehingga narasi yang penting dan bermanfaat tidak hanya dapat ditemukan d dalam sebuah buku yang luar biasa tebal. Kini, informasi yang sama pentingnya dapat dialih bentukkan menjadi sebuah podcast. Atau video yang diunggah melalui Youtube, misalnya. Jadi, pernyataan ‘anak muda malas membaca’ bagi Teguh bersifat subjektif, sebab gaya membaca tradisional tidak lagi dapat diterapkan pada masa sekarang.

Tetapi, Teguh percaya bahwa ada alasan yang secara ilmiah dapat dibuktikan efektif melalui kegiatan membaca secara konvensional, yang tidak bisa dibandingkan dengan kegiatan membaca cepat melalui digital.


Large text.

4. Sensasi yang Absen

Transformasi sebuah lagu dapat kita saksikan melalui Vynil sampai layanan musik streaming. Meski lagu yang diputar sama, tetapi, Teguh sepakat bahwa sensasinya tetap tidak dapat tergantikan. Ada sensasi yang absen ketika kita mendengarkan sebuah lagu yang semula kita dengarkan melalui Vynil di sebuah layanan musik streaming. Pada akhirnya, perubahan-perubahan yang terjadi mungkin akan memberikan pengaruh terhadap gaya hidup atau kebiasaan seseorang, tetapi hal itu tidak akan memengaruhi preferensi orang tersebut dalam mengaktualisasikan seleranya. 

Berbeda dengan alasan Teguh membangun Sounds Of Corner sebagai arsip karya seni musik Indonesia, Teguh ingin lagu yang ia anggap sebagai pusaka dapat terus dinikmati dan tidak akan lekang digilas masa. Itu merupakan komitmen Teguh yang coba erat digenggamnya terhadap dunia musik. 


Bagi Teguh, salah satu tantangan terbesar dalam diri seseorang ketika menyikapi perubahan adalah keyakinan. Keyakinan dibentuk oleh segala sesuatu yang diajarkan pada kita. Maka, pada suatu masa dalam hidup Teguh, dia memutuskan untuk melepaskan kembali segala hal yang telah ditanamkan ke dalam dirinya. Proses ‘unlearn’, begitu Teguh menyebut momen pembebasan dirinya dari seluruh dogma terdahulu kemudian membawanya pada begitu banyak gerbang kesempatan baru. Namun, yang paling disyukurinya dari proses unlearn tadi adalah Teguh berhasil menemukan apa yang diinginkannya dalam hidup. 

Setelah tahu apa yang diinginkan, Teguh mulai menyusun rute menuju tujuannya dari hal-hal paling sederhana yang dapat dilakukannya, hingga ia berhasil meraih semua yang dicita-citakannya hari ini. Ketika ditanya mengenai masa depan, Teguh juga belum yakin apabila ia akan mengandalkan semua yang telah dibangunnya dalam Sounds Of Corner, tetapi, ia akan terus mengarsipkan kurasi musik terbaik dalam negeri. Sehingga prestasi yang dapat dibanggakannya dari usaha tersebut adalah penambahan jumlah arsip musik yang terus ia lestarikan. 

Temukan cerita inspirasi lainnya hanya di KARENA.ID.