Merajut Prestasi Melalui Ilustrasi Pada Kain Scarf Bersama Ditut

Dec 30 / Tim Karena

Pernah, nggak, sih, kamu berpikir bahwa di balik suatu barang yang kamu kenakan, terselip banyak cerita yang mengharukan?

Cerita tentang perjuangan, tentang kerja keras, tentang passion. Dita W. Yolashasanti, salah satu illustrator Tanah Air yang kini menetap di New York menggoreskan karyanya pada selembar scarf membagikan proses serta cerita suksesnya melalui produk yang dia tawarkan. Cerita tersebut dia persembahkan sebagai value tambahan yang didapat oleh pembeli ketika mereka memilih produk Dita. Bagaimana Ditut berhasil menemukan passionnya di bidang ilustrasi, kemudian memadukannya dengan fashion? Simak cerita selengkapnya di artikel KARENA.ID kali ini!

Mengoptimalkan Waktu yang Dimiliki

Sebelum tidur, Dita, atau yang akrab dengan panggilan Ditut seringkali memikirkan kembali apa saja yang dilakukannya sepanjang hari. Bagi Ditut, waktu yang dimiliki haruslah digunakan secara optimal. Ditut tidak ingin melewatkan waktunya sia-sia. Maka dari itu, salah satu caranya memanfaatkan waktu adalah dengan mempelajari hal baru, bertujuan untuk menambah skill.

Memulai karir sebagai food fotografer, Ditut juga pernah berjualan sepatu ketika menjadi mahasiswi di FISIP UI jurusan antropologi. Selain itu, Ditut juga pernah menjabat sebagai penulis skrip di radio setelah lulus, menjadi cake decorator, menjadi produser di stasiun TV swasta Tanah Air, sampai menjadi illustrator dan pebisnis sesampainya dia di Amerika. Saat ini, berdomisili di New York, Ditut menjalankan bisnis yang ia ber nama Ditut’s Scarf di Tanah Air, dibantu oleh adiknya yang menjalankan peran sebagai manager.

Bagi Ditut, semakin banyak hal yang kita coba pelajari, semakin dekat pula kita terhadap pemahaman mengenai apa yang kita suka dan tidak suka. Hal-hal yang tidak diminati Ditut saat ini, bisa jadi akan diminatinya pada 10 tahun mendatang. Sehingga bagi Ditut, keputusannya untuk mencoba segala hal itu tidak pernah sia-sia.
Semakin banyak hal yang kita coba pelajari, semakin dekat pula kita terhadap pemahaman mengenai apa yang kita suka dan tidak suka.

Bereksperimen dan Bereksplorasi

Ayah Ditut merupakan seorang pelukis, sehingga dia tidak begitu asing dengan alat gambar. Dia bahkan tumbuh bersama alat-alat tersebut. Sehingga ketika Ditut baru saja tiba di Amerika, sambil menanti peralatan untuk food photography-nya belum tiba dikirim dari Kuwait, tempat tinggal sebelumnya, ada jeda cukup lama sehingga Ditut kembali menekun hobi lamanya, yaitu membuat ilustrasi. Sebelum pindah ke New York, beberapa teman lamanya menghubungi Ditut untuk dibuatkan gambar untuk kebutuhan mereka. Kemudian ada pebisnis lokal Malaysia yang juga memintanya membuat desain. Brand besar pertama yang tertarik pada ilustrasinya adalah KEEN, sebuah merk sepatu di Amerika.

Ditut juga menawarkan jasa ilustrasinya dalam bentuk paket; paket ilustrasi bebas dan paket ilustrasi repeat pattern. Paket ilustrasi bebas itu untuk ilustrasi yang hanya dapat diaplikasikan pada objek dengan bahan dan ukuran tertentu, tidak bisa dipindahkan ke media lain. Sementara paket ilustrasi repeat pattern memungkinkan klien menggunakan ilustrasi yang sama pada beberapa medium sekaligus. Dari situ, Ditut kemudian memusatkan perhatiannya pada ilustrasi dan desain, sampai kemudian dia membuka lini bisnisnya sendiri, yaitu scarf yang dilengkapinya dengan ilustrasi yang dia buat dengan nama Ditut’s Scarf.

Apakah Ditut langsung berhasil melahirkan ilustrasi yang memukau? Tentu saja tidak. Pada masa awalnya berkarir sebagai illustrator, Ditut seringkali mendapat komentar seperti beberapa bagian tubuh yang tidak presisi, atau bentuknya yang ganjil. Namun, Ditut tidak lantas membiarkan komentar semacam itu memadamkan harapan, apalagi membuatnya berhenti belajar. Seiring berjalannya waktu, Ditut merasakan adanya perkembangan dalam karya-karya yang dia buat. Dari situlah Ditut kemudian belajar menghargai sebuah proses. Sebab tanpa proses, Ditut percaya kita tidak akan pernah bisa maju.

Ditut kemudian memindahkan ilustrasi yang dibuatnya ke selembar scarf. Ketika diunggah ke Instagram, tanpa diduga, responnya begitu mengagumkan. Dalam sekejap, Ditut dan adiknya dibanjiri pesanan scarf yang bahkan sampai membuat aplikasi Whatsapp mereka terganggu. Mereka segera melakukan test print lalu melakukan produksi besar-besaran kemudian tiba di proses yang terakhir, yaitu distribusi.

Ditut melihat bahwa ongkos produksi scarf di Amerika yang begitu tinggi, dibarengi kualitas yang tidak memuaskan membuatnya yakin untuk menjalankan bisnisnya di Tanah Air. Pun bila mendapat pesanan di Amerika, biasanya Ditut hanya menerima pesanan dalam acara tertentu. Untuk dapat memasarkan produksi scarf-nya di Tanah Air ke Amerika, Ditut mengaku menemukan kendala dalam bidang pengiriman.

Kini, tiga tahun kemudian, Ditut rutin merilis tiga koleksinya dalam tiga bulan. Selain scarf, Ditut juga sudah mengeksplor media lain, mulai dari totebag, pouch, sampai clutch.

Menekuni hobi membuat ilustrasi, menghantarkan Ditut kepada bisnis scarf. 

Impian Membahagiakan Orang Banyak

Apakah seseorang berkemauan keras seperti Ditut memiliki rencana besar untuk bisnisnya? Jawabannya tidak. Alih-alih merencanakan sesuatu yang besar, Ditut memilih untuk menjalani bisnisnya dengan mengikuti arus, menikmati setiap proses kecil yang membuatnya bertumbuh bersama para pelanggannya. Bersama mereka, Ditut membentuk komunitas, Ditut membagikan tutorial penggunaan scarf, sampai membongkar tahapan yang dilakukannya dalam menjalani bisnis yang digelutinya saat ini. Hal tersebut boleh dibilang bukan pilihan yang umum, sebab biasanya para perusahaan menutup-nutupi proses di balik produksi, sementara Ditut justru malah membagikannya.

Lantas, bagaiman Ditut mendefinisikan keberhasilan? Ternyata jawabannya adalah melihat para pelanggannya bahagia. Bukan hanya berbahagia ketika membeli produknya, tetapi ketika mereka terlibat dalam value yang coba disampaikan Ditut melalui cerita personal yang dia selipkan di dalam produknya. Hubungan semacam itu yang ditemui Ditut sangat intim dan juga membuatnya merasa berhasil menjalankan bisnisnya.

Untuk anak-anak muda yang tertarik dengan perjalanan Ditut menjalankan bisnis, Ditut menyarankan untuk memusatkan perhatian penuh pada hal-hal yang kita minati. Jangan setengah-setengah. Ditut bercerita bahwa dirinya juga sempat meninggalkan beberapa hal yang dicintainya, supaya dapat fokus pada pengerjaan ilustrasi dan scarf.

Sekali lagi, Ditut mengingatkan kita untuk tidak menyesali apa yang telah kita pelajari, namun belum memberi kita manfaat apapun. Sebab semua yang telah dipelajari Ditut itu diumpamakannya seperti sebuah perpustakaan; suatu saat dapat dia amati lagi. Setelah mempelajari sesuatu, hal tersebut tidak akan pernah hilang.

Kira-kira, hal apa saja yang ingin kamu pelajari saat ini? Apapun itu, pelajarilah dengan sepenuh hati dan jangan setengah-setengah, ya. Suatu saat kamu akan menemukan passion-mu.