Direz Zender, Founder Darahku Biru Melestarikan Pewarna Tradisional

Jan 23 / Baitur Rohman

Kamu mungkin tertarik untuk memulai bisnis di bidang fashion. Lebih spesifiknya lagi, fashion untuk pria.

Jangan sampai, kesederhanaan fashion pria selama ini bikin ide kamu buntu, ya. Sebab selalu ada yang bisa digali dengan kreativitas, contohnya Direz. Dia menggunakan pewarna tradisional Indigo untuk kemeja premium yang diproduksinya. Direz juga memanfaatkan komunitas yang dibangunnya sejak nol untuk meningkatkan awareness. Bukan hanya sebagai media marketing, tetapi inisiatif Direz juga sekaligus mengedukasi orang-orang tentang nilai-nilai dan kebudayaan.

Menjadikan Komunitas Sebagai Media Marketing

Untuk mengetahui cerita di balik kesuksesan Direz hari ini, sebaiknya kita kembali ke satu dekade silam untuk cari tahu bagaimana Direz memulai usahanya. Tepatnya pada tahun 2009, Direz melihat tren denim memiliki kerumunan yang mungkin nggak kelihatan. Pelan-pelan, karena memiliki ketertarikan pada denim juga, Direz ngumpulin orang-orang yang punya ketertarikan yang sama. Forum yang dipilih Direz buat ngumpulin komunitasnya waktu itu adalah Kaskus, dengan nama Darahku Biru. Dari waktu ke waktu, anggota komunitas yang dibentuk Direz terus bertambah. Sebulan sekali, Direz rutin ngadain event exhibition Darahku Biru. Selain nyediain pameran khusus denim, Direz juga bikin talkshow dengan ngundang beberapa orang yang udah duluan bikin bisnis dengan bahan denim. Salah satu topik yang paling sering dibahas di forum, misalnya gimana caranya supaya jeans yang udah dipakai bertahun-tahun nggak mengeluarkan aroma yang nggak mengganggu. Dengan adanya Darahku Biru, para pengagum denim berhasil ngedapetin banyak informasi yang bermanfaar. Dari situ, Direz sadar kalau orang itu memilih gabung dengan komunitas tertentu untuk mendefiniskan dirinya.

Dari Darahku Biru, Direz kenalan dengan pemilik Old Blue Co, Americana vintage jeans. Mereka adalah salah satu pelopor yang duluan jualan denim hasil produksi sendiri. Produk yang mereka bikin berhasil memikat pembelinya karena punya kesan heritage yang kuat.

Suatu waktu, pas bikin merchandise untuk Darahku Biru, salah satu rekan Direz mengusulkan buat bikin bisnis sekalian. Mengingat kesuksesan Old Blue Co, Direz akhirnya tergerak untuk bikin bisnis sendiri juga. Tapi, karena menganggap denim ngasih dia batas, akhirnya Direz memperluas bisnisnya dengan bergerak di Men’s Fashion, dengan denim based. Media marketing yang pertama kali terlintas di benak Direz untuk mempromosikan bisnisnya adalah komunitas yang dibentuknya, Darahku Biru.

Selain melalui komunitas, Direz juga menggunakan pengalamannya kerja di digital agency di Amsterdam. Direz cari blog yang trafficnya bagus sebagai platform buat mengiklankan bisnisnya dalam konten online. Sekarang, bisnis Direz yang dia kasih nama Bluesville berhasil mejeng di salah satu rak The Goods Dept.

Apa Direz melupakan komunitasnya, Darahku Biru? Nggak, dong. Hari ini, anggotanya udah mencapai 30.000 orang meski bukan seluruhnya pengguna aktif. Sejak 2016, event bulanan yang digelar Direz juga udah berhasil ngehasilin profit sendiri. Dari sana, Direz makin aktif ngajakin brand lain buat kolaborasi bikin campaign. Eventnya sendiri sekarang kita bikin profitable. 

Akhirnya, Darahku Biru sekarang udah jadi sebuah entitas usaha.
Media marketing yang digunakan pertama kali oleh Direz adalah membuat komunitas di Kaskus, Darahku Biru.

Meningkatkan Nilai Pewarna Indigo Melalui Bluesville

Masih ada yang asing dengan pewarna indigo? Itu adalah senyawa organik dengan warna biru yang khas, diekstrak dari tanaman indigo. Selain susah didapat, proses celup indigo juga cukup sulit dan memakan banyak waktu. Tapi, hal itu malah bikin Direz semakin mengapresiasi kualitas warna yang dihasilkan. Direz melihat ada peluang buat dia ningkatin awareness masyarakat soal pewarna indigo ini. Jadi, melalui produknya, Direz nggak cuma mempersembahkan kualitas dan estetika, tapi juga nilai budaya.
Perjuangan Direz dapetin pewarna indigo pertama kali menuntutnya untuk menempuh perjalanan sampai ke Ambarawa, Jawa Tengah. Takdir mempertemukan Direz dengan Saiful, pengelola perkebunan indigo. Saiful cerita waktu itu permintaan pewarna indigo juga nggak banyak, paling ada dari pembuat batik di Pekalongan. Bluesville adalah salah satu klien yang ngajuin permintaan cukup banyak, selama dua bulan, bisa mencapai 200 kg. Setelah produk buatan Direz mulai dikenal di masyarakat, Saiful menemukan bahwa permintaan orang terhadap pewarna indigo juga meningkat. Itu artinya, orang mulai ngikutin teknik pewarnaan yang udah lebih dulu dipilih Direz.

Apa yang bikin pewarna indigo ini menarik? Ternyata, pada abad ke-16, pas VOC lagi berdagang di Indonesia, indigo merupakan salah satu tanaman yang paling banyak dikirim dan dijual ke Eropa. Saat itu, cuma bangsawan doang yang pakai pakaian warna biru, karena harganya mahal. Itu juga cuma di Konstantinopel, sebab perdagangannya paling eket ke Turki dan Arab.

Jerih payah Direz nemuin indigo, proses Saiful mengolah dan nyelupin warnanya, kemeja yang dijual Direz dibandrol harga 1 sampai 1,5 juta ke atas. Direz pengen orang mengapresiasi value, mengapresiasi proses rumit yang semuanya di kerjakan manual dengan tangan. Proses pengerjaan 1 kemeja itu bisa memakan waktu 1 minggu.

Karena sempat terjadi krisis indigo gara-gara cuaca yang buruk, Direz berinisiatif bikin kebun kecil untuk menanam indigo di salah satu perkebunan Jawa. Dari kebun itu, Direz bisa menggunakan hasil penanaman indigonya, tetapi belum mencukup keseluruhan produksi. Direz masih memerlukan bantuan Saiful sebagai penyuplai pewarna indigo yang utama.

Di Jepang, yang apresiasi masyarakat terhadap budaya sangat tinggi, indigo udah dianggap sebagai national treasure. Direz yakin, usahanya juga suatu hari nanti bisa bawa Indonesia ke tahap yang sama.

Direz harap, suatu hari nanti indigo bisa jadi sesuatu yang ber-value tinggi.
Pewarna Indigo adalah senyawa organik dengan warna biru yang khas, diekstrak dari tanaman indigo. 

Pentingnya Rencana, Bukan Asal ‘Do It’

Sebagai perayaan 10 tahun Direz menjalankan usahanya, Direz berencana bikin pameran istimewa yang konsepnya masih dirahasiain. Kalau ditanya bisa presisten dalam berbisnis selama 10 tahun, Direz mengaku berkaca sama indigo dijepang yang bisa bertahan ratusan tahun dan jadi sesuatu yang membanggakan.
Direz juga yakin bidang usaha yang digelutinya sekarang menjanjikan peluang yang cerah di masa mendatang. Growth di ecommerce cowok hari ini terus naik, sementara growth buat fashion cewek stagnan di situ aja. Sebab menurut Direz, pendapatan bulanan yang dihasilin sama cowok-cowok tadi bikin mereka mulai mikir buat mentingin penampilan juga, bukan cuma memenuhi basic needs. Terbukti, hasil produksi Direz yang dipasarinnya melalui salah satu e-commerce bisa kejual habis dalam hitungan detik.

Yang bikin Bluesville bertahan selama satu dekade? Jawaban Direz adalah inovasi. Dari waktu ke waktu, Direz terus naikin kualitas produknya; mulai dari kualitas kancing, kualitas bahan. Kualitas warna juga. Direz menantang Saiful buat mengolah warna indigo dengan teknik lain. Direz selalu coba ngikutin tren dengan gayanya sendiri.

Ngomongin inspirasi, Direz juga ngelirik Voyage sebagai anak-anak muda yang punya keyakinan kuat dalam menjalani sesuatu. Direz selalu kagum sama orang-orang yang kerja karena pengen ngembangin diri, bukan cuma buat gaji. Itu juga yang jadi saran Direz buat siapa pun yang lagi mikir mending jalanin usaha sendiri, atau kerja sama orang. Selama tujuannya adalah kerja buat ngembangin diri, berarti kamu udah ada di jalur yang tepat.

Khusus buat kamu yang tertarik berbisnis di bidang fashion, Direz ngingetin kita kalau tiap bikin 1 produk, itu artinya kita nambahin 1 sampah buat dunia. Kalau gak ada gunanya, ngapain dibikin? Pastiin kita tahu kalau produk kita sustainable. Urusan itu, Direz punya caranya sendiri. Setelah bertahun-tahun dipakai, produk yang dibuat Direz kualitas warnanya bakal menurun dan Direz nyediain jasa penyelupan supaya dia kelihatan baru. Yang udah robek-robek juga bisa dibikin baru lagi. Dengan gitu, Direz berharap orang bisa menghargai produk yang mereka beli selama-lamanya.

Melihat detil yang dituangkan Direz ke dalam produknya, kelihatan banget ya kalau dia nyiapin konsep yang beneran udah matang banget, nggak asal bikin produk. Direz juga nambahin kalau research mendalam itu penting dalam bisnis. Kalau bisa, bikin bisnis yang berkelanjutan. Let say selama 10-20 tahun ke depan. Jangan cuma ngikutin tren. Buat Direz, bisnis yang bagus itu bisnis yang bisa kita wariskan untuk anak cucu nanti.

Jadi, gimana? Udah siap memulai bisnis di bidang fashion? Temuin artikel inspiratif lainnya di KARENA.ID, ya.