Belajar dari Paskalis Kunang: Membaca Peluang dan Tantangan

Sep 3 / Sarita Laras
Bagi Paskalis Kunang tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa dia akan menjadi seorang toy artist yang cukup populer di dalam dan luar negeri. Jika kembali ke lima atau enam tahun lalu, ia adalah seorang karyawan biasa di sebuah agensi. Hari-hari pria yang akrab disapa Kunang itu dipenuhi dengan deadline dari perusahaan. Akan tetapi, saat temannya kerap mengajak ke berbagai pameran seni dan mainan, di situlah Kunang mulai membuka pintu karier barunya.
Lulusan FSRD Universitas Kristen Maranatha Bandung itu lantas tertarik untuk mengulik character design dan mencoba untuk membuatnya. Berawal dari desain digital, rasa tidak puas kemudian mendorongnya untuk membuat art toys. Sayangnya kala itu ia lagi-lagi tidak puas sehingga karya pertamanya itu tidak pernah dirilis hingga sekarang. Kunang pun sempat beralih ke seni grafiti tapi itu tidak berlangsung lama karena dia sulit menemukan makna di dalamnya. Ia pun kembali menekuni dunia art toys.Saat ia menggeluti pembuatan art toys, Kunang mengamati bahwa masyarakat tengah menggandrungi Instagram. Menurutnya itu menjadi sebuah peluang untuk memasarkan karya-karyanya kepada audiens yang lebih luas. Terlebih dari observasinya, ia melihat peluang bisnis yang besar dari art toys. Di luar negeri, art toys begitu diminati, bahkan daya beli masyarakat di sana cukup tinggi kendati harga satuannya bisa mencapai jutaan rupiah.

Namun yang menjadi pertanyaan Kunang, mengapa di Indonesia belum ada pegiat seni yang menggeluti bisnis art toys. Kondisi tersebut baginya bisa menjadi sebuah peluang besar dan sekaligus juga tantangan. Sebagai peluang, ia bisa menjadi pemain besar dalam bisnis ini karena belum terlalu banyak kompetitor. Sementara itu, hal ini juga bisa menjadi tantangan karena belum adanya pelaku bisnis di bidang ini menandakan belum terbentuknya basis konsumen yang cukup.

Meski begitu, Kunang tetap melihat art toys sebagai pilihan yang menjanjikan. Oleh karena itu, dia mulai menampilkan karya-karyanya melalui Instagram dengan menggunakan nama Mr. Kumkum sebagai julukan. Di sanalah dia mendapatkan banyak pelanggan dari luar negeri. Pada 2020 lalu, ia mengaku bisa mendapatkan konsumen 20–50 pelanggan per bulannya. Di samping itu, tawaran untuk berkolaborasi pun terus menerus datang. Dia juga berkesempatan untuk mengadakan pameran di berbagai negara, seperti Amerika Serikat dan Taiwan.
Silent Killer - Catacombs by Mr. Kumkum
Sumber:instagram.com/mrkumkum
Perjalanan Kunang bersama art toys yang cenderung mulus tak lepas dari prinsip berkarya yang dia terapkan. Kurang lebih begini “Sedikit lebih beda lebih baik daripada sedikit lebih baik.”  Ia mencoba untuk menciptakan style baru yang belum pernah dibuat siapapun. Menurut Kunang, itulah yang justru diminati banyak orang. Dalam menemukan idenya pun katanya tak perlu muluk-muluk, yaitu cukup dengan melihat lingkungan sekitar. Jika menemukan keresahan di sana, hal itu bisa langsung dijadikan inspirasi ide. Misalnya, saat berada di Jakarta, Kunang merasa kota ini bak ular yang siap melilit siapapun yang datang. Maka dari itu ia coba mewujudkannya dalam sebuah art toy berbentuk ular. Selain itu, Kunang pun mencoba bereksplorasi melakukan cross genre dalam seni yang berarti mengkombinasikan beberapa genre seni sekaligus untuk menemukan identitas seni yang otentik.

Ketika dihadapkan dengan banyaknya pesanan dari dalam dan luar negeri Kunang membuat sebuah keputusan besar. Dia memutuskan untuk fokus menekuni art toys dan meninggalkan pekerjaannya di agensi. Menurutnya, makin dia aktif mengeluarkan karya di media sosial, semakin banyak pula permintaan yang datang. Namun, saat dia disibukkan dengan urusan kantor, maka peminat karyanya pun turut menyusut. Singkatnya, kalau dijalankan setengah-setengah, hasilnya juga akan setengah-setengah juga. Meskipun keputusan besarnya itu masih dibayangi rasa takut, tapi Kunang tetap mencoba optimistis dan terus mencari validasi. Validasi yang dimaksud Kunang adalah semacam test market, apakah barang yang ia produksi diminati atau tidak.

Tantangan yang dihadapi Kunang tidak berhenti di situ. Sebagai pemula dalam bisnis, kadang kala dia kelabakan soal manajemen kerja, apalagi saat pesanan tengah menumpuk. Untuk mendapatkan ilmu lebih jauh mengenai bisnis, dia mencoba untuk berbincang dengan eks-atasannya dulu dan mendengar berbagai siniar. Dia pun ke depan berharap bisa menemukan partner yang tepat untuk berkolaborasi memajukan bisnisnya.

Dari Kunang, banyak hal yang bisa dipelajari, seperti membaca peluang bisnis dan mengatasi segala tantangan yang muncul. Bisa dikatakan, dalam membaca peluang yang ada, selain menjadi kreatif, kemampuan observasi juga sangat penting. Kita harus peka terhadap tren dan perkembangan dari bidang yang diminati. Hasil observasi tersebut sebaiknya lekas diaktualisasikan dan untuk diperoleh validasinya. Dalam hal ini, Kunang menggarisbawahi, jika karya kita belum mendapatkan sambutan baik dari publik, maka jangan langsung berhenti. Jadikanlah itu sebagai hobi terlebih dahulu dan terus konsisten hingga kemudian bisa menemukan momen yang tepat untuk memasarkannya kembali.
Empty space, drag to resize

Artikel Terbaru