Program Residensi sebagai Gerakan Kolektif Seniman

Oct 12 / AMANDA ANDINA NUGROHO

Kolektif Seniman Arief Yudi yang Mengusung Konsep Program Residensi Seniman

Berawal dari seniman fotografi, Arief Yudi kembali ke kampung halamannya untuk berkomunikasi kepada masyarakat dengan harapan dapat menemukan hal baru. Saat kembali ke Jatiwangi, Ia akhirnya mengembangkan masyarakat melalui kesenian tanah liat. Hal ini mengingatkan kembali kepada identitas masyarakat Jatiwangi yaitu pengrajin tanah liat (genting). Tidak hanya merangkul orang yang memiliki latar belakang kesenian, Arief Yudi juga mengajak masyarakat dengan latar belakang yang beragam untuk belajar dan berkreasi melalui seni. Di sinilah awal mula berdirinya Jatiwangi Art Factory (JAF), komunitas seni yang bertujuan untuk memberdayakan serta mengurangi konflik masyarakat Jatiwangi.

Apa Itu Program Residensi Seniman? Plus Tujuan

Program residensi seniman merupakan program yang mengusung konsep seperti retreat dan live-in untuk para seniman sehingga mereka dapat berkarya, mencari ide dan suasana baru, serta saling bertukar pikiran dengan seniman lainnya. Dengan partisipan yang datang dari latar belakang berbeda, harapan dari program ini dapat membantu para seniman untuk berkarya dengan ide dan inovasi terbaru mereka. Tujuan dari program ini sendiri untuk mendukung para seniman agar dapat terhubung dan berinteraksi langsung dengan komunitas dan dapat menjadi solusi masalah atau isu yang terjadi di masyarakat melalui pekerjaan mereka. Tidak hanya para seniman, program ini diikuti oleh kurator, pekerja seni, akademisi, dan peneliti sehingga beragam perspektif kritis serta ide yang saling menghubungkan.

Histori Program Residensi Seniman

Pada awal mula residensi seni, program ini dibuat oleh pihak studio seni yang ditawarkan kepada seniman individu untuk berkarya. Bermula di tahun 1900an, para seniman menetap di pedesaan dan membentuk koloni seniman. Mereka mengumpulkan ide dan berkarya secara kolektif. Koloni ini sendiri terdapat di pedesaan Eropa bernama Wordspede. Didirikan ditahun 1889 oleh seniman Heinrich Vogeler dan Rainer Maria Rilke. Gerakan kolektif seniman ini menarik perhatian dunia hingga dijuluki Weltdorf. Akhirnya di tahun 1971, mereka mendirikan Kunstlerhauser Worpswede yang berkembang menjadi pusat residensi seni.
Ditahun 1960-an, konsep residensi mengalami sedikit perubahan. Para seniman “mengasingkan” diri dari lingkungan borjuis sementara untuk menciptakan utopia mereka. Hal ini ditujukan untuk aksi sosial dengan melibatkan publik seperti studio di desa dan kota yang berfungsi sebagai basis pergerakan sosial dan politik. Perkembangan residensi seniman yang tidak hanya berfokus pada seni tetapi juga perubahan sosial politik ini berlanjut hingga tahun 1970-1980an.
Berlanjut di tahun 1990-an, inisiatif dari program residensi ini berkembang tidak hanya di negara bagian barat tetapi juga menyebar ke seluruh dunia. Menyebarnya residensi seniman pun meningkatkan keberagaman dari seniman itu sendiri. Program residensi sendiri menjadi gerakan akar rumput yang menghubungkan para seniman dengan tujuan untuk menciptakan pengetahuan serta seni baru. Hal ini berfungsi sebagai katalis bagi masyarakat negara non-barat untuk menghubungkan antara seni kontemporer lokal dengan seni global.
Masuk di tahun 2000, perkembangan teknologi begitu pesat hingga membuat komunikasi bisa berlangsung lebih cepat melalui internet dan media sosial. Hal ini pun memengaruhi perkembangan program residensi seni. Di era ini, program residensi menjadi kesempatan yang penting dalam karir seniman baik di lingkup nasional maupun internasional. Beberapa stakeholder pun ikut berkontribusi seperti pemerintah, donatur, dan pihak lainnya. Perkembangan ini pun menghasilkan program residensi yang kolaboratif serta adanya lokakarya antar disiplin yang membuat para seniman di seluruh dunia saling terhubung.
Pada tahun 2010, residensi seniman berkembang ke arah apa fokus yang diambil bukan bagaimana mereka melaksanakannya. Residensi digunakan sebagai penelitian yang dilatarbelakangi oleh isu yang sedang terjadi di masyarakat. Ide-ide yang bermunculan diharapkan dapat meningkatkan perkembangan pengetahuan serta pemahaman yang dapat menjadi solusi dalam masyarakat.
Residensi seniman memiliki kaitan erat dengan adanya seni kolektif yang terjadi pada komunitas seniman. Di Indonesia sendiri, para seniman mengadakan proyek kolektif agar dapat memberdayakan masyarakat sekitar. Ingin tahu lebih lanjut tentang proyek kolektif seniman? Kamu bisa mendengarkan kisah Arief Yudi hanya di Karena Podcast!