Seni Mendesain Kehidupan Dari Andi Rahmat

Jan 26 / Abi Ardianda

Selama ini, kita mendefiniskan desain sebagai bentuk, pola atau gambar yang kita lihat.

Bagi Andi Rahmat, seorang Type Designer, Graphic Designer, serta Typographer, makna desain jauh melampaui itu. Bahasa, serta perilaku kita sebagai manusia juga perlu didesain dengan santun. Desain merupakan persoalan keyakinan, perjuangan, serta ketekunan untuk membuat lingkungan dan hidup menjadi lebih baik.

Berbekal pendidikan desain grafis di salah satu kampus swasta di Bandung, bertahun-tahun Andi Rahmat bergabung sebagai desainer grafis di beberapa perusahaan multi nasional. Hingga akhirnya, dia memutuskan memulai bisnis sendiri dengan nama NUSAE, sebuah studio desain grafis yang fokus pada pembuatan design dan environmental graphic berlokasi di Bandung.

Membuat Lingkungan Lebih Baik Melalui Desain Visual

Sebagai mahasiswa desain grafis, tepatnya pada semester tiga, Andi memutuskan untuk bekerja dengan salah satu pionir clothing brand yang berdiri sejak 1996 di Bandung dengan gaji Rp 700.000,-. Saat itu, Andi percaya materi bukanlah hal utama yang perlu dia kejar duluan. Pengalaman, pengetahuan, serta pertemuan-pertemuannya dengan orang berpengaruh yang justru membantunya menjajaki karir.
Senang menggambar sejak kecil enggak menjadikan dia mahir setelah dewasa. Andi percaya menjadi seorang desainer grafis, seseorang enggak perlu pandai menggambar, sebab kita bisa merekrut illustrator yang sesuai dengan konsep yang kita butuhkan. Andi enggak mengerti mengapa sampai hari ini para desainer harus lulus tes menggambar untuk diterima di jurusan desain. Padahal, hanya seorang desainer grafis dengan pola pikir solutif yang mampu menentukan di level mana dirinya akan berkarir. “Pembuat desain undangan pernikahan juga kita anggap desainer grafis. Menurut Andi, yang membedakannya adalah pola pikir.
Sebelum fokus membangun bisnis independen, Andi sempat bekerja di beberapa perusahaan multi nasional yang kemudian memberikannya kesempatan untuk mengerjakan proyek dari brand-brand besar seperti Marlboro, Samsung, McDonald’s, Coca Cola Indonesia, UNILEVER, Philip Morris dan lain sebagainya.

Desain yang diciptakannya disebar dalam berbagai medium, salah satunya baligo. Kadang baligo-baligo itu dipasang sembarangan dan merusak pandangan. Melalui sketsa raksasa itu, para produsen menjejali konsumen untuk percaya bahwa kebutuhan tersier memiliki tingkat urgensi yang perlu didahulukan, mengabaikan kebutuhan lain yang sebetulnya jauh lebih penting. Ketika itulah nurani Andi terketuk.

Baginya, sebuah desain ideal setidaknya dapat bersifat fungsional, menginspirasi sekaligus mengedukasi. Sementara yang dikerjakannya saat itu enggak melingkupi satu pun komponen tersebut. Setelah memantapkan keyakinan dan mempersiapkan diri, baik secara mental, pengetahuan maupun finansial, Andi memutuskan untuk membangun usaha sendiri, dengan salah satu visinya untuk membuat lingkungan menjadi lebih baik.
Selain fungsional, desain yang ideal harus menginspirasi sekaligus mengedukasi.

NUSAE: Menghidupkan Karakter Desain yang Autentik

Butuh setahun bagi Andi beserta rekannya untuk menciptakan nama NUSAE. Nama itu terpilih dari ratusan nama lain yang muncul sebagai pilihan. Nu sae, dalam Bahasa Sunda berarti ‘yang baik’. NUSAE juga merupakan kependekan dari Nusa Artha Estetika.
Bukan cuma nama yang dipilih Andi secara selektif. Proyek yang ditawarkan juga enggak semuanya dia terima. Bersama tim yang dibentuknya, total terdapat 15 orang tergabung dalam NUSAE. Mereka mengutamakan proyek-proyek yang punya manfaat bagi lingkungan atau komunitas. Produk unik yang memiliki peluang untuk dikembangkan juga menjadi salah satu proyek incaran NUSAE.

Beberapa klien, terutama klien personal, bukan korporasi, ditemui Andi secara langsung sebagai upaya membangun chemistry. Andi enggak cuma meletakkan perhatian pada proyek yang bakal dikerjakan bersama. Diskusi diperluas Andi sampai merambah seputar fashion, musik bahkan sejarah. Bagi Andi, kesamaan fundamental dari pihak-pihak yang bekerja sama penting untuk menciptakan hubungan yang harmonis. Tanpa keseragaman serta pemahaman yang matang dalam interaksi dengan klien, proyeknya enggak akan mulai dikerjakan.

Sejauh ini, Andi bersama tim sudah berkomitmen untuk enggak menerima proyek dari produk nikotin dan alkohol. Uang enggak pernah menjadi pertimbangan utama bagi NUSAE dalam memilih proyek yang diajukan, itu salah satu prinsip Andi.

Setelah kesepakatan dibuat, Andi Bersama tim NUSAE akan menyediakan paling enggak seratus alternatif untuk dipersembahkan pada klien. Keputusan akhir ditentukan yang paling efektif melalui diskusi panjang, menyesuaikan kebutuhan klien. Ada desain-desain sederhana, bahkan seperti enggak niat didesain dengan serius, tetapi justru punya makna mendalam. Ada juga desain yang sangat mencolok.

Menurut Andi, dia dan timnya harus tahu kapan mereka perlu ‘berteriak’ melalui desain yang dibuat, kapan mereka perlu ‘berbisik’. Keduanya cuma bisa betul-betul dipahami setelah Andi menguasai teknik. Andi sering menekankan pada timnya, “kalau output-nya biasa aja dan sama dengan yang dilakuin orang lain, kenapa orang pilih NUSAE?”

Dari sana, kita dapat menyimpulkan bahwa karakter desain yang autentik merupakan hal yang dianggap penting oleh NUSAE.

Kesamaan fundamental dari pihak-pihak yang bekerja sama penting untuk menjalin hubungan yang harmonis.

Andi Rahmat

Mendesain Tulang Bawang Barat

Ketika ditanya proyek paling menarik yang sedang dikerjakan NUSAE saat ini, dengan semangat Andi menyebutkan proyek pembangunan Tulang Bawang Barat jawabannya. Tulang Bawang Barat merupakan sebuah kabupaten di Lampung yang bertransisi menjadi sebuah wilayah independen.
Melalui Andra Martin, salah satu arsitek kebanggaan bangsa yang akan fokus mengerjakan bangunan di Tulang Bawang Barat, Andi diperkenalkan pada bupati Tulang Bawang Barat, Umar Ahmad, SP. Setelah mengundang Andi ke Tulang Bawang Barat, serta menyambangi kantor Andi di Bandung, Bapak Umar Ahmad memercayakan Andi dan tim untuk menangani desain yang dibutuhkan dalam pembangunan Tulang Bawang Barat. Kalau lancar, Andi berharap, desainnya dapat dinikmati publik dalam lima tahun mendatang.

Karena kebanyakan penduduk di Tulang Bawang Barat merupakan transmigran, akhirnya sulit menentukan salah satu budaya untuk mewakili keseluruhan wilayah. Lampung juga memiliki kebudayaan sendiri. Akhirnya, bapak Umar Ahmad menggaet seniman senior Indonesia, Bapak Hanafi untuk menciptakan sebuah budaya baru untuk Tulang Bawang Barat. Keseriusannya membangun budaya melingkupi pembuatan baju adat baru, dikerjakan oleh fashion designer lokal dari Jakarta.

Kesuksesan Andi mungkin bikin kita penasaran, gimana cara mematangkan identitas sebagai desainer? Mau sampai di level mana kita berkarir sebagai designer? Andi berpesan jawaban dari pertanyaan itu bisa didapatkan dari beberapa role modelnya dalam berkarir. Andi menyebutkan nama-nama senior desainer, seperti Josef Müller-Brockmann, yang ilmunya dibawa oleh Andi dari Swiss dan diterapkan di Indonesia. Atau Emil Ruder, yang juga berasal dari Swiss. Kenya Hara, dari Jepang, yang diyakini Andi sebagai negara yang perlu terus dipelajari perkembangannya. Sampai Wim Crouwel dari Belanda.

Para tokoh tersebut diperhatikan Andi sepanjang hidupnya konsisten menjalankan profesi sebagai desainer. Konsistensi tersebut yang disarankan Andi dimiliki oleh para desainer pemula. “Konsisten aja, biar semesta yang support,” Andi menyemangati. Nanti, ketahuan di level mana kita berkarir dan kematangannya sudah sampai mana.

Bagi kamu yang juga tertarik menjejaki karir di bidang desain grafis seperti Andi Rahmat, semoga artikel ini dapat memberi inspirasi, ya.