5 Tips Mengelola Keuangan yang Sehat untuk Freelancer

Jun 7 / Sarita Laras
Sumber:unsplash.com
Banyak orang saat ini memutuskan untuk menekuni karier sebagai freelancer. Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2020, ada sekitar 33,34 juta orang yang bekerja sebagai freelancer. Jumlah tersebut meningkat 26 persen (4,32 juta orang) dari tahun sebelumnya. Sebaliknya, total penduduk yang menjadi pekerja tetap di perusahaan atau semacamnya justru menurun.

Semakin diminatinya dunia freelance tak lain karena berbagai keuntungan yang dimiliki. Misalnya, dengan menjadi freelancer seseorang akan memiliki sistem kerja yang fleksibel, artinya bebas bekerja kapan saja dan di mana saja. Mereka juga bisa memilih lebih dari satu jenis pekerjaan sesuai dengan keahlian dan minat. Beberapa jenis pekerjaan yang tengah populer di kalangan freelancer antara lain, videografer, fotografer, penulis, penerjemah, data entry, desainer grafis, dan masih banyak lagi.

Meski tren dunia freelance tengah menanjak, para freelancer tidak boleh lupa untuk mengatur keuangan mereka. Sebab proyek atau job untuk freelance tidak selamanya ada. Selain itu, perusahaan juga memiliki kuasa untuk memutus perjanjian kerja kapan saja. Apakah kamu salah satunya?

Nah, supaya kantong tetap sehat, kamu dapat menyimak tips mengatur keuangan sebagai berikut.

Membuat Alokasi Dana untuk Setiap Kebutuhan

Pertama, kamu wajib membuat pos-pos pengeluaran dengan menyesuaikan jumlah pendapatan. Sebagai contoh, Perencana Keuangan Prita Ghozie, menyebut, idealnya setiap bulan penghasilan seseorang dibagi menjadi tiga pos alokasi, yaitu:

  • 50 persen untuk living (biaya kebutuhan sehari-hari).
  • 30 persen untuk saving (tabungan). Jangan lupa, alokasikan dari tabungan untuk dana darurat.
  • 20 persen untuk playing atau rekreasi.


Membuat alokasi dana untuk setiap kebutuhan membantu kondisi finansialmu tetap sehat dan jauh dari kondisi besar pasak daripada tiang. Dengan demikian kamu sekaligus dapat mempersiapkan dana untuk kebutuhan darurat, menyiapkan dana pensiun dan lain sebagainya.

Mengontrol Setiap Pengeluaran

Persentase alokasi dana 50-30-20 di atas akan lebih maksimal jika kamu disiplin dan memiliki self-control yang baik. Kamu bisa coba dengan memiliki nomor rekening yang berbeda, atau manfaatkan fitur pos tabungan di bank digital untuk masing-masing pengeluaranmu. Selain untuk mengontrol pengeluaran dari anggaran yang telah ditetapkan dan juga membantu mempermudah pembukuan nantinya.

Buat Catatan Pengeluaran Harian

Mencatat pengeluaran sehari-hari dapat membantu kamu untuk tetap berada di jalur yang sesuai dengan alokasi pengeluaran. Catatan tersebut menjadi bahan evaluasi jika pengeluaranmu telah melebihi bujet. Sebagai contoh, dari catatan pengeluaran, ternyata terlalu banyak uang yang dikeluarkan untuk pergi ke coffee shop.

Maka dari itu, kamu dapat mencari solusi dengan mengurangi intensitas ke coffee shop. Pilihan lainnya, atasi dengan meningkatkan penghasilan dengan mencari tambahan sehingga bujet untuk playing bisa ditingkatkan dan tidak akan mengurangi kunjungan ke coffee shop.

Untuk membuat catatan pengeluaran harian, memanfaatkan platform google sheet ataupun aplikasi pencatatan, seperti Monefy, Finansialku, Wallet, dan lain sebagainya. Berbagai aplikasi tersebut telah menyediakan fitur kategorisasi pengeluaran, seperti untuk makan minum, rekreasi, dan lainnya sehingga akan memudahkan untuk evaluasi.

Periksa Keuanganmu Setiap Pekan

Setelah membuat catatan pengeluaran, tidak lengkap rasanya jika tidak memeriksa kondisi keuangan secara rutin, misalnya sepekan sekali. Kamu dapat mengevaluasi jumlah pengeluaran pada pekan itu dan mengecek sisa saldo atau kas yang dimiliki. Kemudian tentukan strategi yang tepat untuk pekan selanjutnya. Rutinitas tersebut secara tidak langsung juga akan membantu mereka dalam membangun kebiasaan keuangan yang sehat.

Siapkan Dana Darurat

Dana darurat pada dasarnya wajib dimiliki oleh setiap pekerja, termasuk freelancer. Dana darurat merupakan sejumlah uang yang disimpan untuk digunakan pada saat-saat darurat, seperti kecelakaan, kerusakan rumah, atau saat tidak ada job freelance.

Idealnya, besaran dana darurat untuk freelance lajang tanpa tanggungan bisa dimulai dari 3 kali jumlah pengeluaran bulanan. Artinya, jika 3 bulan ke depan kamu tidak mendapatkan pemasukan, kebutuhan bulanan kamu tetap bisa terpenuhi dengan normal. Rentang waktu 3 bulan tersebut bisa kamu tambah sesuai keperluan, kalau kamu mau memperlebar safety net kamu.

Selanjutnya, dana darurat dapat disimpan ke dalam berbagai produk investasi risiko rendah, seperti tabungan, deposito, atau reksadana pasar uang. Pilih di antara produk tersebut yang paling likuid atau mudah pencairannya, dan pastikan untuk tidak menggunakan dana darurat untuk kebutuhan yang tidak sesuai peruntukannya.
Itulah informasi mengenai tips mengelola keuangan yang sehat untuk kamu, para freelancer dan calon freelancer. Prinsipnya, semakin disiplin dalam mengatur keuangan, semakin dekat pula pada tujuan keuangan yang dicita-citakan.
Drag to resize